Berproses Dalam 35mm

Pada tahun 2017, saya bertemu dengan sepupu saya. Pada saat itu ada hal menarik yang dia bawa, yaitu SLR Canon EXee buatan tahun 60-an. Kamera klasik yang masih berfungsi, dengan masih menggunakan film 35mm.

Kamera Analog Rangefinder Yashica Electro 35

Di dunia yang serba digital saat ini, termasuk kamera, membuat saya bertanya kepadanya. “kok masih pake kamera film kayak gitu? Kenapa?”.

Dia hanya menjawab singkat, “Jadi lebih menghargai proses, ko.”

Buat saya, itu jawaban menarik, walau awal mendengar terkesan klise. Zaman sekarang semua sudah lebih cepat dan praktis, buat apa sekadar menghargai proses sampai berlama-lama memakai kamera analog yang begitu panjang prosesnya, hingga bermuara pada sebuah foto jadi.

Akhirnya, kami sepakat janjian pergi ke Kota Tua, untuk foto-foto di sana. Saya membawa DSLR saya dan sepupu saya juga membawa kamera SLR analognya, disertai 1 roll Fujifilm Colorplus C200, berisikan 36 eksposur*.

*36 eksposur ini artinya, dalam 1 roll film ada 36 kali kesempatan untuk pengambilan gambar.

Selama perjalanan kami keliling Kota Tua, Gang Gloria, dan Pasar Pagi, saya sudah menghasilkan dua ratusan foto dalam kamera DSLR saya, bermacam-macam hal yang difoto. Sesekali saya lihat hasilnya, yang tidak puas saya langsung hapus. Foto-foto yang ada di memory card, haruslah sudah yang terbaik.

Berbeda sekali dengan sepupu saya, yang hanya punya 36 amunisi saja dalam foto. Sayapun sempat bertanya “apakah cukup cuma 1 roll film?”

Dia hanya menjawab, “Wuah, ini udah lebih dari cukup Ko.”

Sepupu saya begitu santai selama perjalanan, tidak impulsif dalam mengambil gambar. Dia banyak mengamati dan sesekali mengambil gambar yang dianggap penting untuk diambil. Tidak tergesa-gesa dan sabar menunggu momen, itu yang dia lakukan bersama kamera analognya.

Saya masih bisa melihat hasil foto saya secara langsung, sedangkan dia harus sabar menunggu membawa roll film untuk develop dan scan, menjadi foto digital (iya, karena hasil foto di film dipindai secara digital). Setelah selesai, saya membawa ratusan foto dalam memory card, sedangkan sepupu saya tidak habis memakai 36 amunisi fotonya.

Saya bersama sepupu saya, Divio T.

Saya yang penasaran bertanya, “Kalau menunggu sampai jadi kan lama ya, bukannya malah bikin gak sabar ya? Belum tentu hasilnya bagus juga kan?”.

Dia menjawab “Iya Ko, belum tentu hasilnya bagus semua, tetapi proses menunggunya sebanding dengan hasil usaha foto, sampai jadi fotonya nanti. Ada rasa yang berbeda pas lihat hasilnya nanti.”

“Sejak pakai kamera analog, jadi bisa memilih apa yang memang mau difoto. Gak gampang hapus-hapus foto juga saat di digital. Jadi lebih menghargai hasil yang ada, meski ada hasil foto yang tak berhasil. Yang pasti gue menikmati sih proses di kamera analog ini dan hasil fotonya unik-unik, kayak ada tone khasnya sendiri.” ujarnya.

Saya jadi tertarik mau coba dan akhirnya membeli sebuah kamera analog rangefinder Yashica Electro 35 (1969). Ketika akhirnya belajar memakai kamera analog, anehnya semua yang dikatakan sepupu saya itu benar. Awal-awal memang boros memakai roll film dan banyak hasil foto yang tak memuaskan setelah sekian panjang prosesnya.

Seiring waktu, saat kemampuan dan hasil foto mulai membaik, saya sangat jatuh cinta dengan hasil kamera analog. Tidak ada yang salah dengan ucapan sepupu saya. Sama sekali!

Saya baru kali ini merasakan proses menunggu yang begitu menyenangkan. Biasanya menunggu itu bikin kesal, tetapi ini berbeda, yang ada rasa antusias menunggu hasil foto. Semakin lama, saya merasa 36 eksposur itu sudah sangat banyak, padahal dulu pakai kamera digital, hasil ratusan foto masih terasa sedikit.

Saat mendapat hasil foto yang tak maksimal, saya juga tak kecewa, malah tetap mensyukuri hasil yang ada. Ini aneh, ada perasaan yang memang berbeda, saat memakai kamera analog. Menunggu proses sampai selesai, seperti merindukan sosok yang sangat kita sayangi.

Sejak saat itu saya terus menggunakan kamera analog, sampai sekarang. Bahkan, beberapa teman akhirnya juga ikutan menggunakan kamera analog. Sejak saat itu saya mengambil pelajaran penting juga dari kamera analog.

Bukan berarti menggunakan kamera analog menjadi lebih baik dibanding digital. Kamera digital menurut saya tetap penting untuk mendapatkan hasil foto terbaik dan cocok untuk mengikuti rima aktivitas saat ini yang membutuhkan efisiensi dan kecepatan waktu (cepat bukan berarti buru-buru ya). Namun, ada cara perlakuan yang saya yakin berbeda terhadap penggunaan kamera digital nantinya atau mungkin dalam segala aktivitas apapun, saat sudah merasakan kamera analog dengan baik.

Saya percaya jika mampu melalui proses, kita bisa belajar banyak. Dari kamera analog saya belajar, khususnya menghargai proses itu sendiri dan merasa cukup. Secara tidak langsung, hal tersebut terbawa dalam kehidupan sehari-hari tanpa saya sadari. Mendapatkan foto baik adalah arah tujuan, tetapi fokusnya bukan di hasil akhirnya, melainkan pada setiap proses yang dilalui.

Yuk, coba belajar dan rasakan sendiri! Saya mengajak teman-teman yang gemar fotografi atau yang tertarik kamera analog untuk mencoba memakai kamera analog. Saya yakin kalian merasakan apa yang saya rasakan.

Hasil-hasil foto kamera analog 35mm saya bisa dilihat di akun instagram: @motopake35mm, di bawah ini!

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar