Dahulu ketika saya sedang mengerjakan skripsi di S-1, saya mendapatkan pengalaman tak terlupakan. Pengalaman itu berkaitan mengenai pahamnya bahwa menjadi seorang pendidik itu lebih dari sekadar mengajar, tetapi juga memang mendidik. Mendidik yang dimaksudkan seperti apa? Mungkin pengalaman saya bisa memberi sedikit gambaran. Dosen pembimbing saya tidak hanya menjadi pahlawan untuk selesainya skripsi saya kala itu, tetapi perhatian dan perkataan yang diberikan kepada setiap mahasiswa bimbingannya sungguh menyentuh saya.
Beliau bernama Ibu Rosidah Syaukat, S.Psi., MBA. Singkat cerita, Beliau menjadi salah satu dosen yang berpengaruh selama saya kuliah di S-1. Selain bimbingan skripsi yang tak perlu dikhawatirkan lagi kualitasnya, ditambah kesabaran Bu Rosidah dan kata-kata penguatannya melekat di hati saya. Bu Rosidah selalu aktif menanyakan perkembangan skripsi anak didiknya dan selalu menyempatkan waktu memberi tanggapan, serta memberi masukan untuk draf skripsi yang diperiksa.

Perlu diketahui, sistem bimbingan skripsi saya waktu itu berupa kelas, jadi satu dosen bisa membimbing belasan mahasiswa. Berkat perhatian dan nasihat yang diberikan, membuat saya merasa bersemangat menjalani tugas akhirnya. Saya melihat bahwa pendidik seperti guru dan dosen juga perlu menjadi contoh dalam sosoknya sendiri. Bukan hanya unjuk ilmu yang dikuasai, tetapi juga ada cerminan nilai kenidupan, serta tindakan nyata dari pendidik itu sendiri. Rasanya, mahasiswa juga bisa belajar hal yang lebih luas juga, di luar mata kuliah terkait.
Bukan berarti dosen-dosen saya yang sebelumnya tidak baik, mereka punya peranan penting juga dalam perjalanan saya sebagai mahasiswa. Salah satu contoh lainnya adalah Pak Marta Sanjaya, S.I.P., M.Si. Beliau dengan kebaikannya memberi kesempatan dan dorongan untuk saya bisa memperbaiki nilai saya. Adanya kepercayaan Beliau kepada saya, bahwa saya bisa lebih baik sungguh berkesan. Saya belajar untuk percaya juga kepada diri orang lain.
Ada juga Ibu Dr., Dra. Ulani Yunus, M.M. dan Ibu Mia Angeline, S.Kom, M.M., M.I.Kom. dengan segala kerendahan hati mereka selalu menyempatkan waktu untuk memberi masukan, nasihat, dan diskusi kepada saya sebagai mahasiswa. Hingga saat ini saya masih bisa berdiskusi mengenai dunia pemasaran dengan mereka. Serta banyak dosen lain yang tak bisa saya sebutkan satu persatu. Bagi saya, mereka adalah pribadi-pribadi pemenang.
Sehingga, selain dibekali ilmu komunikasi pemasaran, saya belajar untuk memberi kepercayaan, menghargai waktu, mendengarkan, pentingnya menjadi panutan, serta memberi kesempatan kepada orang lain, meski orang itu belum siapa-siapa. Kembali ke konteks saat saya skripsi, segala hal yang saya dapatkan membuat saya menyadari bahwa pendidik merupakan pekerjaan yang penting. Mereka mempunyai kemampuan untuk mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih baik. Hal itu yang saya rasakan dari dosen-dosen saya dalam keseharian mereka di universitas.
Sejak saat itulah timbul keinginan dalam diri saya untuk bercita-cita menjadi dosen suatu masa kelak. Karena pengalaman yang saya dapat saat berkuliah S-1 dari dosen-dosen saya, membuat saya juga ingin bisa meneruskan apa yang mereka lakukan. Tidak hanya mengamalkan ilmu, tetapi juga melihat mahasiswa sebagai manusia yang perlu diberi perhatian dan dukungan menjadi pribadi lebih baik. Saya menyadari itu bukanlah pekerjaan mudah, mahasiswa juga banyak dan beragam karakternya. Perlu kesabaran, keikhlasan, dan semangat pedagogis yang kuat.
Untuk siapapun kalian tenaga pengajar, baik guru sekolah, guru les, tutor, pelatih, dosen, dan lain-lainnya, percayalah peran kalian begitu berdampak pada setiap perjalanan kehidupan anak didik kalian. Jadi inspirasi bagi mereka untuk berkembang lebih maju. Menjadi ahli pada bidang terkait yang diajarkan merupakan syarat mutlak, pandai mengajar juga keharusan, tetapi mampu menjadi inspirator nilai-nilai kehidupan dalam tindakan nyata, akan menjadi nilai tambah yang sangat berharga.
Saat ini saya mendapatkan kesempatan menjadi dosen paruh waktu di sebuah universitas swasta. Meski paruh waktu, sayapun juga ingin dan berusaha bergerak menjadi pendidik yang baik, layaknya dosen-dosen saya sebelumnya. Jika ingin anak didik maju, maka hal-hal yang baik sudah harus dimiliki oleh pendidik. Seperti yang ditulis sebelumnya, bahwa memang bukan hal mudah menjadi pendidik atau menjadi pribadi yang ideal, namun kita bisa sama-sama belajar menjadi orang yang berdampak.
John C. Maxwell dan Les Parrott dalam buku mereka: “25 Ways to Win with People” menyebutkan dalam salah satu pembahasannya: “Jika Anda ingin meraih kemenangan bersama orang lain (dalam konteks tulisan ini adalah anak didik kita), Anda sendiri harus jadi pemenang atau setidaknya sedang dalam perjalanan ke situ”.
Jadi, Anda tidak bisa memberi apa yang tidak Anda miliki. Lalu bagaimana jika kita belum jadi orang demikian? Kabar baiknya, hasrat dan upaya Anda untuk menang bersama orang lain membantu Anda untuk jadi pemenang. Anda tak sendirian, saya juga sedang berusaha ke arah sana.
Seorang pemenang perlu memiliki NILAI dalam dirinya untuk bisa membawa orang lain lebih baik. Hal ini memang tak hanya untuk pendidik saja, siapapun Anda yang ingin bergerak bersama orang lain perlu tahapan ini. John C. Maxwell dan Les Parrott membagi 4 langkah agar diri seseorang bisa menjadi pemenang yang menggerakan orang lain.
- Sadari Nilai Anda: Anda perlu mencari nilai yang ingin Anda perjuangkan dan tercermin dalam diri Anda. Misalkan nilai kejujuran, kerja keras, disiplin, tepat waktu, rendah hati, adil, dan lain-lain.
- Terima Nilai Anda: Perlu diakui bahwa diri sendiri tidaklah sempurna, mungkin ada hal atau nilai yang tak Anda miliki. Namun, hal itu tak masalah, terimalah nilai baik yang memang ada pada diri Anda dan minimalkan kebiasaan buruk.
- Tingkatkan Nilai Anda: Saat sudah mengenali dan menerima nilai yang ingin Anda perjuangkan, maka Anda perlu meningkatkannya. Nilai itu harus terbawa dan berkembang dalam setiap aktivitas Anda.
- Percayai Nilai Anda: Ketika sudah mengenali, menerima, dan meningkatkan nilai Anda, maka selanjutnya yang penting adalah memercayainya. Memercayai bahwa nilai yang Anda miliki adalah sesuatu yang berdampak baik dan tak ternilai. Dengan keyakinan seperti ini, Anda akan mampu menggerakkan dan menularkan orang lain dengan nilai yang Anda miliki.
Empat langkah tersebut adalah cara untuk membantu kita menemukan nilai dalam diri kita, agar bisa menjadi pendidik yang tak hanya pandai dalam ilmu, tetapi juga sebagai pendidik kehidupan. Teman saya yang juga seorang dosen pemenang, Dr. Christian Fredy Naa, M.Si., M.Sc., pernah berbagi pesan dalam suatu sesi yang saya ikuti.
Dia mengingatkan bahwa penting dalam pekerjaan apapun untuk menjalankannya dengan spirit of excellence. Spirit of excellence adalah semangat untuk selalu memberi lebih dalam mengerjakan sesuatu, menjadi di atas rata-rata. Selalu memberikan yang terbaik menjadi cerminan spirit of excellence dan ini adalah ciri sang pemenang. Tak hanya mengajar ilmu, tetapi juga mendidik secara karakter yang bernilai. Hal itu memberi nilai tambah sebagai pendidik.
*Pak Chris ini juga memiliki konten-konten yang sangat menarik dan insightful, teman-teman bisa akses ke konten Beliau di Youtube (video) dan Spotify (siniar). Saya belajar banyak dari Beliau.
Tulisan ini akan saya tutup dengan sebuah kejadian. Ada seorang pengajar yang handal di bidangnya, namun diberhentikan mengajar karena sikap dan perkataannya yang dinilai tak berkenan. Jika melihat kasus tersebut, saya dulu berpikir, bahwa sayang sekali ada orang ahli di bidangnya berhenti karena hanya hal tersebut, sebab ilmu dan pengalamannya luar biasa. Namun, setelah direnungkan kembali dengan pengalaman dosen-dosen saya sebelumnya, saya diingatkan kembali bahwa memang pintar saja tidak cukup, pendidik juga perlu cemerlang secara nilai dan karakter.
Selamat bertumbuh untuk kita semua.
*Tulisan ini saya dedikasikan untuk dosen-dosen saya sebelumnya, baik saat saya S-1 Universitas Bina Nusantara dan S-2 Universitas Kristen Krida Wacana. Terima kasih untuk waktu, ilmu, dan nilai-nilai kebaikan yang diberikan.
Bibliografi
Maxwell, J.C., & Parrot, L., 2007. 25 Ways to Win with People. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.