Adil adalah sebuah konsep yang banyak juga diperjuangkan banyak orang. Butir Pancasila ke lima, juga berbunyi “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Semua ingin mendapat keadilan dan menentang sebaliknya. Namun apa arti adil itu sendiri? Jangan-jangan banyak yang berteriak adil, tetapi masih meraba-raba apa itu adil.
Ada yang bilang adil itu sama rata, tanpa perbedaan. Ada yang bilang adil itu dibagi sesuai kebutuhan dan proporsinya, serta ada banyak versi lainnya.
Melihat dari KBBI, adil adalah “sama berat”, “berpihak kepada kebenaran”, “semestinya”.
Terlepas apapun artinya adil, tampaknya setiap orang akan berusaha menggapai adil sesuai dengan harapan mereka.
Kembali muncul pertanyaan, kalau diri sendiri ingin diperlakukan adil, sejauh mana kita menerapkan keadilan tersebut? Lebih dalamnya lagi, sudahkah kita juga menerapkan adil itu ke diri sendiri?
Rasanya hal ini perlu direnungkan, kita ingin mendapat keadilan, tetapi sudahkah kita sendiri memberi adil itu ke diri kita sendiri? Terlepas apapun definisi adil yang diyakini.
Bisa jadi ada praktik-praktik baik sadar atau tidak sadar yang menjadi bentuk ketidakadilan terhadap diri kita sendiri.
Dulu saya saat masa remaja, ketika mandi, kecenderungan hanya fokus membersihkan diri pada bagian badan ke atas. Saya lupa atau mungkin abai lebih tepatnya untuk membersihkan bagian bawah, khususnya bagian kaki saya. Padahal bagian betis ke bawah adalah area yang sering terbuka dan perlu dibersihkan.
Pertanyaannya adalah sudah adilkah saya dengan diri saya sendiri?
Selama kita masih mengutamakan rasa enak di lidah, tanpa khawatir pencernaan kita.
Selama kita masih mengutamakan main permainan, tanpa diimbangi dengan belajar.
Selama kita masih mengutamakan hal-hal lain, sampai mengabaikan waktu istirahat.
Selama kita masih mengutamakan leha-leha, sampai malas berolah raga.
Selama kita terus membohongi diri sendiri, seolah semua baik-baik saja, dan seterusnya.
Jangan-jangan kita juga belum bisa mewujudkan rasa adil yang kita yakini, bahkan untuk diri kita sendiri.
Semoga kita bisa merenungkan dan memulai dari diri kita sendiri untuk berbuat adil. Biarlah saat kita sudah bisa adil terhadap diri kita sendiri, selanjutnya kita bisa membawanya itu keluar atau sekalipun menuntut keadilan dari luar.
Sehingga kita tidak berteriak, memberi, atau memberi sesuatu hal yang kita belum ketahui, bahkan belum kita rasakan dan lakukan.
Teman-teman, selamat mengarungi lautan keadilan dengan diri mu sendiri.
*Tulisan ini sudah dimunculkan lebih dahulu pada Tu+Lisan – Terlintas Podcast: @terlintas.podcast