Di suatu percakapan dengan teman-teman, ada bahasan menarik dengan obrolan mengenai mobil.
Ada satu teman, saya sebut dia sebagai teman pertama. Teman pertama inilah yang mengungkapkan rencananya untuk membeli sebuah mobil dalam waktu dekat. Teman pertama merasa akan susah untuk bergerak jika tak punya mobil sendiri, khususnya di saat genting. Mendengar ungkapan tersebut, teman kedua memberikan pendapatnya bahwa di saat ini, jika tak benar-benar butuh, baiknya tak perlu beli mobil.
Teman kedua berargumen bahwa dengan situasi kemacetan yang ada dengan harga mobil yang mahal, biaya pajak, bensin, dan perawatan mobil membuat apa yang dikeluarkan dirasa tak sebanding dengan yang didapatkan (meski dia berasal dari keluarga yang berada). Teman kedua ini memang akhirnya lebih memilih naik transportasi umum untuk berpergian. “Beneran, deh, udah gak make sense untuk membeli mobil, mending lo gunakan dana yang ada untuk hal yang lebih penting lagi.” Ungkapnya.
Teman pertama menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia jadi berpikir kembali untuk rencananya. Teman ketiga juga angkat bicara, “Iya, gue setuju untuk tidak membeli mobil, gue sampai saat ini juga belum beli mobil, karena masih lebih utamain beli rumah. Gue baru mau beli mobil, saat cicilan rumah gue sudah kelar.” Teman pertama kembali menganggukkan kepalanya.
Setelah menyimak diam mendengarkan, akhirnya, teman keempat berbicara, “Di keluargaku, orangtuaku dari mereka muda belum pernah kesampaian memiliki mobil mereka sendiri. Mereka sebenarnya punya harapan ingin bisa ajak keluarganya jalan-jalan dengan kendaraan sendiri, sekadar keliling kota, namun tak pernah kesampaian. Sampai akhirnya, aku bisa usahakan beli mobil pertama aku. Aku langsung ajak mereka jalan-jalan, kami waktu itu langsung pergi ke luar kota dan mereka benar-benar senang sekali saat itu. Melihat mereka senang, aku juga senang. Aku tidak menyesali keputusan aku untuk membeli mobilku sampai saat ini, meski masih nyicil.” Jawab dia dengan goresan senyuman tipis di wajahnya.
Kita semua sama-sama terdiam sejenak, kita tampak saling setuju dengan alasan-alasan yang ada, tidak saling bantah antar kami saat itu.
Saya hanya menyimak dalam hening dan berkata dalam hati bahwa memang baik dan benar bisa menjadi relatif, tergantung pada kondisi-kondisi spesifik tertentu. Semoga hikmat dan kebijaksanaan dalam hati yang mampu menuntun pilihan apa yang akan kita ambil, termasuk untuk teman pertama saya yang ingin membeli mobil pertamanya.
Have a nice day, kawan!