Pernahkah memiliki pengalaman mengetahui seseorang yang dinilai baik, tapi nyatanya tidak benar-benar demikian?
Misalnya, ada orang yang tak ragu mengeluarkan uang banyak untuk traktir, namun saat memberi bantuan yang tak terlihat orang, hanya memberi sedikit. Ada lagi orang yang terlihat dermawan, sering membantu orang lain, nyatanya saat memberi upah; masih belum layak ketika diberikan kepada orang lain. Contoh lain lagi, ada orang yang tampak taat beragama, ternyata ketika di kehidupan sehari-hari menunjukkan hal yang 180 derajat berbeda dan contoh-contoh kejadian lainnya.
Jika pernah, rasanya itu bukan hal yang mengagetkan lagi. Adanya kontradiksi-kontradiksi tersebut mungkin sekali ditemui, bahkan di diri sendiri! Setiap manusia tentunya tidak sempurna. Terlebih lagi di era medsos saat ini, mudah sekali menampilkan citra-citra positif tertentu yang bisa membentuk penilaian baik yang bisa saja belum tentu benar demikian. Kebaikan masih di tahap artifisial saja, bukan karena benar-benar esensinya baik.
Orang cenderung bisa melakukan kebaikan yang luar biasa ketika sedang dilihat orang lain, namun jadi berbeda saat tak ada yang melihat dan mengetahuinya. Nyatanya, untuk berbuat baik pun masih ada yang membutuhkan pengakuan dari orang lain atau untuk sekadar meraih citra-citra diri tertentu.
Pada dasarnya tulisan ini adalah perenungan dan teguran untuk diri saya sendiri, ketika diri ini menemukan pengalaman serupa di orang lain dan jadi evaluasi mendalam bahwa diri ini juga mungkin melakukan kesalahan sama di kasus yang lain.
Menyelami kejadian-kejadian yang ditemui membuat saya akhirnya menemukan bahwa…
Ingin menjadi baik dan ingin terlihat baik adalah dua hal berbeda.
Semoga saja, baik saya dan setiap yang membaca tulisan ini bisa menentukan pilihannya dengan tepat.