Di sebuah coffee shop bertemulah sapi dengan beruang kutub. Mereka tampak akrab saling berbicara, sambil nyeruput kopi hitam pesanan mereka.
Sapi membuka sebuah topik pembicaraan dan berkata “Selamat ya beruang kutub, kamu jadi primadona saat ini. Para homo sapiens sedang memburu kamu, sampai saling rebutan di toko-toko. Kamu begitu terkenal dan dicari, kamu hot commodity.”
Beruang kutub menanggapi, “Wuah, apakah itu sebuah sindiran? Karena isi produk itu adalah susu dari kaummu? Hahaha, aku hanya terkenal karena sekadar jenama saja, bahkan tak dijelaskan itu beruang apa. Apakah beruang madu, panda, atau beruang coklat. Andai tak ada gambar, para manusia tidak mengaitkan dengan kaumku, itupun tak jaminan mereka tahu nama kaumku.”
Sapi berkata kembali, “Iya, aku sedih. Susu yang mereka minum adalah perahan dari jutaan kaum kami, yang seharusnya itu diberikan ke anak-anak kami. Aku masih tak paham mengapa mereka meminum susu sapi, mereka manusia, tapi minum susu sapi. Untuk ukuran makhluk yang memiliki akal budi dan berfilsafat, buat ku yang pemakan rumput ini, sungguh tak masuk akal.” ungkap sapi sambil meminum kembali kopi arabica miliknya.
Beruang kutub memandang ke luar jendela dan bicara lirih, “Aku pun bingung dengan ulah mereka. Demi hidup penuh kenyamanan, mereka mengorbankan dunia dan isinya. Tahukah kamu, akibat pemasanan global, hal itu berdampak pada lingkungan di habitatku? Es mencair dan anjing laut yang menjadi makanan kami jadi berkurang, beruang kutub kekurangan makanan. Ironisnya, kami bahkan menjadi kanibal bagi sesama kami, demi bertahan hidup.”
Sapi terdiam, memahami apa yang dialami sang beruang kutub. “Aku mengerti penderitaanmu, menjadi kaumku juga tak mudah, kawan. Kami dibesarkan hanya untuk dieksploitasi, saat sudah waktunya kami berakhir di pejagalan. Bahkan, bangkai kami pun tak bersisa, semua diambil mereka. Aku iri dengan corona, kita makhluk besar tak bisa membela diri kita sendiri, tetapi corona yang tak terlihat, mampu membuat mereka berantakan.” jawab sapi.
“Ah iya, jujur aku merasa ada kelegaan juga. Aku merasa itu cara untuk mengimbangi apa yang sudah terjadi selama ini di atas dunia. Homo sapiens juga perlu mengalami penyesuaian, tetapi apakah menurut mu itu adil dan baik, sapi?” tanya beruang kutub.
“Aku tak tahu kawan, aku hanya takut suatu saat kau memakan aku karena kamu butuh makan. Hahaha, kali ini aku yang bercanda. Ayo, waktu kita sudah selesai! Kita harus kembali bekerja, beruang putih! Tapi, aku berharap mereka tahu produk yang mereka minum adalah susu kaumku, bukan hanya sekadar tulisan saja. Aku ingin gambar kaum ku yang ada di logo mereka.” balas sapi.
“Aku setuju, aku tak keberatan. Aku ingin lebih dikenal sebagai hewan yang terancam punah, daripada sekadar ada pada logo produk itu. Lagi pula, protein susu kaummu, masih kalah dengan protein di mi instan, aku merasa susu kaumku masih lebih sehat, hahaha. Ayo, kita kembali ke display kita masing-masing, anak-anak manusia sudah ingin melihat kita lagi.” tutup sang beruang kutub.
Mereka berdua kembali menjalani kehidupan di habitat palsunya.
Note: tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di akun Instagram Terlintas Podcast (@terlintas.podcast)