Catilda

“Catilda! Kesayanganku! Hari ini aku mendapat pekerjaan besar! Ada klien besar ingin gaun dari rancangan dan jahitan tanganku sendiri! Aku punya waktu 7 hari untuk menyelesaikannya. Doakan aku, ya, Catilda-ku yang paling cantik sedunia! Semoga dia suka dengan ide dan gaun buatanku.” ungkap Elbe kepada kucing kesayangannya.

Catilda memandang manja kepada majikannya, dirinya sangat menyukai ketika menerima sanjungan dari Elbe terhadap dirinya. Pelukan hangat dan usapan lembut dari Elbe, membuat Catilda selalu ingin bersama dengan majikannya. Namun, ini saatnya Elbe untuk bekerja di dalam ruang kerjanya. Ketika Elbe larut dalam rancangan-rancangan gaun dan jahitannya, dirinya mengurung diri selama bekerja. Catilda tentunya harus menunggu dengan sabar hingga Elbe keluar untuk memberi makan dan bermain dengannya.

Seumur hidup Catilda, dia belum pernah memasuki ruang kerja Elbe. Elbe selalu menutup rapat-rapat pintu, ketika saat dirinya di dalam ataupun di luar ruang kerjanya. Catilda punya keinginan yang besar, dia ingin melihat isi ruangan tersebut dan menemani majikan kesayangannya bekerja.

Hari terus berganti, hingga harinya tiba bagi Elbe untuk menyerahkan gaun buatannya. Dirinya begitu bersemangat dan ingin segera pergi membawa mahakaryanya. Sebelum dirinya pergi, Elbe memeluk kembali Catilda dan berkata, “Catilda, kehadiranmu mengubah hidupku, kaulah keberutunganku, kaulah kucing tercantik yang ada di seluruh dunia! Kamu ingat itu, Catilda! Aku sekarang pergi dan segera kembali!”

Elbe pergi dengan tergesa, hingga lupa untuk menutup pintu ruang kerjanya. Catilda dilema dengan godaan di balik pintu yang tak tertutup rapat itu. Dirinya hanya punya beberapa jam untuk menjelajah isi ruang kerja Elbe, sebelum Elbe kembali. Catilda ragu, dirinya memutuskan untuk tidak masuk ke dalam, menunggu Elbe pulang.

Tiga jam sudah berlalu, Elbe tak kunjung pulang. Catilda yang penuhi kebosanan, akhirnya mengikuti arah penasarannya, Catilda menuju pintu ruang kerja Elbe. Catilda memandang garis vertikal tipis pada jeda kusen dan daun pintu di hadapannya, dengan satu helaan napas, Catilda mendorong pelan-pelan pintu dengan kepalanya. Ia masuk ke ruang kerja Elbe.

Di dalam ruangan cukup gelap dan hanya tembusan cahaya dari jendela yang menerangi beberapa bagian. Ruang kerja Elbe tertata rapi, hanya bagian meja kerjanya saja yang masih berantakan dengan berbagai perlengkapan. Catilda mulai menjelah isi ruangan, dia bisa merasakan atmosfer Elbe kala bersemangat kerja di ruangan itu.

Hingga saat Catilda memandang di satu sisi dinding, dirinya terkejut, sangat terkejut, hingga membuat dirinya terdiam. Catilda melihat ada sebuah tempat masuk – tanpa pintu – menuju ruangan lain dan tampak ada seekor kucing lain di ruangan lain tersebut. Catilda panik dan takut, karena hanya dirinya saja kucing yang ada di rumah itu, Elbe hanya memiliki dirinya. Catilda diam menatap kucing di ruangan lain itu, kucing di seberang sana juga hanya memandang diam ke arah Catilda. “Oh, mungkin ini alasan Elbe tidak mengizinkanku masuk ke ruangannya, karena ada kucing lain selain diriku dan menemani Elbe kala bekerja.” ucap Catilda dalam hatinya.

Catilda lalu memberanikan diri untuk melihat kucing itu lebih dekat, kucing di seberang sana seakan memiliki rasa penasaran yang sama, mereka saling mendekat dan berhenti di jarak yang mereka berdua kira sama-sama aman. Catilda semakin ketakutan, karena ternyata kucing yang akhirnya terpapar sinar dari jendela menunjukkan rupanya. Kucing itu buruk rupa, kucing itu hanya memiliki satu mata, terdapat goresan luka besar dari bagian kiri atas kepalanya menyilang melewati mata sampai ke hidung kucing itu. Catilda sangat ketakutan melihat kucing yang naas itu. Catilda menjadi takut dan mulai berteriak bertanya “Siapa kamu? Mengapa kamu ada di ruangan ini? Apakah kamu kucing yang menyelinap di sini?” Kucing misterius juga tampak berbicara, tetapi ia tidak mengeluarkan suara, Catilda tidak mengerti apa yang yang dibicarakan kucing buruk rupa tersebut.

Catilda akhirnya memutuskan untuk mendekati kucing itu lebih dekat, meski dirinya ketakutan. Catilda mulai menggerakan kakinya menuju kucing itu secara perlahan. Tiba-tiba, tubuhnya terangkat dan dia melihat wajah Elbe. “Aku mencari kamu ke mana saja! Ternyata kamu berada di ruanganku, Catilda. Syukurlah! Aku pikir kucing kesayanganku paling cantik ini kabur dari rumah. Ayo, kita keluar, aku punya banyak cerita untukmu, Catilda!” ungkap Elbe sambil membawa Catilda keluar dari ruang kerjanya.

Catilda kembali menatap kucing buruk rupa itu untuk terakhir kalinya, sebelum ia hilang dari pandangannya. Catilda terus memandangi kucing itu. Catilda tidak tahu siapa kucing malang tersebut, ia tidak mengenalinya, namun ia yakin Elbe mengenal baik kucing di dalam ruangan itu. Kucing buruk rupa dalam ruang kerja Elbe menjadi pertanyaan yang tak terjawab bagi Catilda dan Ia menyimpan misteri tersebut di dalam hatinya.

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar