Konon, kisah Mahabharata dimulai dari Prabu Sentanu yang bertemu dengan putri cantik di tengah hutan. Prabu Sentanu ingin menjadikan putri cantik itu sebagai permaisurinya. Putri itu setuju, namun dengan dua syarat yang harus dipenuhi Prabu Sentanu.
Dua syarat itu adalah Prabu Sentanu jangan mempertanyakan asal usul sang putri dan apabila suatu hari ada perbuatan sang putri yang menyimpang dari hukum kemanusiaan, Prabu Sentanu jangan menegurnya. Prabu Sentanu setuju akan dua syarat itu.
Mereka akhirnya menikah dan hidup bahagia. Namun, saat melahirkan anak laki-laki pertama mereka, Prabu Sentanu terkejut saat mengetahui istrinya membuang buah hati mereka hidup-hidup ke sungai Yamuna. Hati Prabu Sentanu hancur dan sangat sedih, namun dia teringat akan janjinya untuk tak menegur istrinya.
Seolah tak terjadi apa-apa, mereka melanjutkan kehidupan mereka. Kembali, sang istri melakukan hal yang sama saat melahirkan anak selanjutnya. Kehidupan bayi kecil itu berujung tenggelam di sungai Yamuna.
Prabu Sentanu akhirnya tak bisa menahan diri lagi, saat lahir bayi laki-laki kedelapan. Pada saat sang istri ingin membuang bayi ke sungai Yamuna, Prabu Sentanu muncul menahan tindakan itu. Prabu Sentanu melarang, karena dirinya butuh sosok penerus dan mempertanyakan mengapa istrinya berbuat demikian.
Keadaan ini membuat dirinya telah melanggar janjinya dulu. Supaya bisa menjelaskan, sang istri jadi harus menceritakan dari awal, termasuk siapa dirinya dan dari mana dia berasal. Artinya syarat pertama dan kedua sudah tak berlaku.
Sang istri bercerita bahwa dirinya bernama Dewi Gangga, dirinya adalah Dewi dari Kayangan. Akibat dari suatu kejadian yang terjadi di Kayangan, Dewi Gangga harus menerima hukuman turun ke Mayapada (bumi), dengan syarat dirinya harus bersuami, tetapi suaminya tidak boleh tahu asal-usulnya. Jika janji dilanggar, barulah dirinya boleh kembali ke Kayangan.
Pada saat Dewi Gangga di Mayapada, bertemulah dia dengan delapan Wasu (penduduk Kayangan yang setengah dewata). Delapan Wasu ini sedang menjalani hukuman atas kesalahan yang mereka buat. Mereka dihukum turun ke Mayapada dan baru bisa kembali ke Kayangan, jika dilahirkan dari rahim seorang Dewi, serta bayi yang baru lahir itu harus dibuang ke sungai Yamuna.
Tergerak hati Dewi Gangga karena merasa kasihan, akhirnya dirinya menyanggupi permintaan 8 Wasu tersebut. Demikianlah dua syarat untuk Prabu Sentanu tercipta. Akibat dari kejadian ini, Dewi Gangga langsung terangkat kembali ke Kayangan, meninggalkan Prabu Sentanu bersama putra semata wayangnya.
Mengetahui kejadian sebenarnya, membuat Prabu Sentanu sangat menyesal karena melanggar janji dan kehilangan wanita yang dicintainya. Kisah ini menjadi awal perjalanan cerita Mahabharata.
Kisah di atas bisa membuka ranah berpikir di sisi kemungkinan yang lain. Kemungkinan adanya sesuatu yang melampaui akal budi manusia. Tindakan Dewi Gangga membuang bayi ke sungai adalah tindakan tak masuk akal, namun dibalik itu ada sebuah konteks dan kondisi yang melatarinya.
Masuk akal atau tidak masuk akal, tak lagi menjadi sempit seperti di pikiran manusia, namun bagaimana itu ditempatkan pada konteksnya dan kondisi yang sudah terbentuk sedari awalnya.
Konteks tersebut juga pada dasarnya netral, karena ada kondisi-kondisi yang akan membuatnya bermakna. Namun, harus diakui pikiran manusia ada batasnya, manusia tak mampu melihat konteks dan kondisi-kondisi yang ada secara utuh. Akhirnya, manusia rentan melabeli segala sesuatu masuk akal atau tidak, berdasarkan pertimbangan moral dan akal manusia, seperti Prabu Sentanu.
Penilaian manusia itu bukan berarti salah, namun lebih kepada bentuk kerendahan hati mengakui bahwa manusia juga tidak mudah memahami banyak hal di kehidupan yang penuh misteri ini.
Mungkin, sebenarnya ada banyak kejadian yang tak sesuai rencana, harapan dan rasa kemanusiaan kita. Namun, kembali di balik itu semua, mungkin ada suatu makna yang tak bisa manusia lihat konteksnya secara penuh. Masuk akal atau tidaknya menjadi relatif, bahkan bisa jadi tak perlu dinilai, dia netral sedari awal.
Kebutuhan manusia akan kebenaran saja yang akhirnya membuat manusia menilai segala sesuatu. Mengandalkan akal kita sangatlah perlu, tetapi bukan bermegah dalamnya.
Layaknya saat bermimpi. Pernahkah merasa di dalam rumah, lalu saat keluar, tiba-tiba sudah berada di kantor? Mungkin ada yang pernah mengalaminya. Menyadari keluar rumah langsung di kantor adalah tidak mungkin, tetapi manusia cenderung bisa menerima kondisi tersebut dalam mimpi; tampak lumrah. Masuk akal atau tidak masuk akal, bisa jadi tak sepenting itu di alam mimpi.
Demikian nantinya kita saat sudah terlepas dari dunia ini. Bisa saja masuk akal atau tidak memang bukan yang utama, namun bagaimana cara kita merespon dan merengkuh segala sesuatu selama hidup kita. Lagi, mungkin ada sesuatu yang melampui akal budi manusia.