Perjalanan Pulang ke Rumah

Sabtu, 7 Desember 2013. Saya bertemu dengan mantan kolega saya untuk makan siang, penanda kepergiannya esok hari menetap di luar negeri.

Kami berdua makan dan ngobrol cukup lama, hingga beberapa jam terlalu. Ketika jam sudah mau pukul 17:00 sore, kami berpisah. Saya menuju pulang ke rumah.

Lokasi restoran ke rumah saya tidak jauh jika menggunakan kendaraan, sekitar 4 km saja jaraknya. Saya pergi mengendarai motor saya. Ketika di tengah perjalanan, saya terjebak macet.

Macet kali ini tidak biasa, karena tak pernah separah itu. Berpikir karena sudah dekat rumah dan lagi macet saya memutuskan melepas helm saya. Saat itu hawa begitu sejuk, tapi tetap menunggu macet bukan hal yang menyenangkan. Saya beranjak mencari jalan lain. Saya kembali jalan pulang.

Di tengah perjalanan saya teringat dengan pekerjaan saya yang perlu diselesaikan, saya merasa perlu mengerjakan pekerjaan saya.

Setelahnya saya teringat keluarga saya, saya jadi ingin mencari orang tua dan adik saya, lalu berbicara pada mereka.

Selanjutnya saya teringat cita-cita dan masa depan saya, saya ingin memantapkan lagi langkah-langkah apa yang akan saya ambil di tahun 2014 yang akan mendatang.

Saya teringat juga dengan masa lalu saya, yang pernah membuat kesalahan, terluka, tetapi masih tidak tahu bagaimana cara berdamai dengannya.

Saya teringat dengan teman-teman saya, saya sadar kehadiran mereka adalah anugerah bagi hidup saya. Saya ingin bertemu mereka di malam minggu.

Segala hasrat dalam pikiran itu terus melayang-layang. Hal itu membuat saya seakan masih belum melakukan apa-apa selama 23 tahun hidup sebagai diri saya sendiri. Sabtu itu menjadi melelahkan. Saya memutuskan membuka mata.

Sesaat mata terbuka, saya melihat langit-langit putih dan saya melihat ada keluarga saya yang sedang menangis melihat saya. Saya bingung, gak mengerti apa yang terjadi, tidak tahu saya di mana. Saya menggerakkan badan saya, tetapi tidak mampu. Ada rasa sakit luar biasa di bahu kanan saya dan di kepala saya. Ada yang tak benar dalam pikir saya.

Ternyata saya mengalami kecelakaan, tak lama setelah saya memutar balik dari kemacetan. Sebuah kecelakaan tunggal, yang sampai saat inipun saya tak tahu apa penyebabnya. Kecelakaan yang membuat saya tak sadarkan diri untuk beberapa waktu, gegar otak ringan, dan patah tulang selangka di bahu kanan.

Saya harus dioperasi hari itu juga dan setelahnya menjadi sangat berbeda. Saya tidak lagi menjadi diri yang sama. Butuh waktu beberapa bulan untuk saya bisa kembali ke aktivitas normal.

Dari kejadian itu saya mencoba mengingat kembali pada hari itu. Adegan terakhir yang saya ingat adalah saat saya memutar balik ke jalan lain, selanjutnya menjadi perjalanan alam pikiran saya, dengan segala hasrat-hasrat hidup saya.

Saya jadi menyadari bahwa hidup itu begitu rentan, singkat bagai embun pagi yang akan segera hilang, ternyata benar adanya. Pemisahan hidup dan mati itu hanya selaput yang begitu tipis. Saya tak terbayang pernah hampir merobek selaput yang rentan itu.

Saya jadi tahu, bahwa benar juga yang dikatakan Sirius Black, saat ditanya oleh Harry Potter, “Apakah terasa sakit saat menjelang kematian?” Sirius saat itu menjawab “Lebih cepat daripada tertidur”. Saya sama sekali tak merasakan apapun saat itu, saya bahkan merasa masih melanjutkan kehidupan saya.

Saya jadi paham juga istilah arwah penasaran. Bisa jadi istilah itu muncul karena ada banyak hal yang belum terselesaikan, namun waktu untuk hidup sudah tiada. Seandainya saya tiada saat itu, rasanya saya tetap tidak sadar bahwa saya sudah mati. Saya seakan masih melanjutkan kehidupan saya.

Terlepas dari itu semua, satu hal yang saya sadari adalah waktu itu misteri dan hidup itu sebenarnya singkat. Saya sadar waktu kita selama hidup yang singkat ini begitu berharga, masalahnya kita tidak tahu kapan waktu berakhirnya kita masing-masing.

Saya jadi lebih menghargai hidup ini, saya menjadi punya pandangan berbeda atas hidup saya. Selagi ada kesempatan hidup di dunia, isilah waktu sebaik-baiknya untuk diri sendiri, orang terkasih di sekitar. Sebab jika waktunya tiba, kita tidak lagi merasa ada pekerjaan yang belum terselesaikan.

Percayalah hidup kita saat inipun juga merupakan perjalanan pulang ke rumah. Jadi isilah sebaik-baiknya.

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar