Selagi Ada

Pada suatu pertemuan dengan sahabat-sahabat karib saya. Sahabat saya bercerita mengenai pengalaman beratnya, ketika mama terkasih berpulang setelah menyelesaikan pertandingannya di dunia. Kesedihan mulai muncul dari raut wajahnya, suasana menjadi hening, larut dalam cerita sahabat.

Kepergian sang mama membuat seolah-olah waktu yang sudah dilalui bersama sang mama menjadi tidak cukup. Padahal dirinya bukanlah anak yang acuh pada orang tuanya. Rindu begitu mendalam terhadap sang mama selalu muncul, mimpi-mimpi yang ingin ditunjukkan kepada mama, harus berakhir dengan kenyataan waktu. Pada saat itulah dia berkata:

“Selagi ada waktu, isilah waktu bersama orang tua.”

Perkataan sahabat saya saat itu menjadi pengingat bagi kami semua, menyadari waktu bersama orang terkasih itu ada masanya. Biarlah hingga pada masa akhirnya nanti, entah siapapun yang akan lebih dahulu pergi, kita semua bisa melepas atau pergi dengan kesiapan penuh. Sahabat saya yang dekat dengan mamanya pun, masih merasakan kegundahan yang demikian, apalagi yang tidak pernah membagi waktu bersama orang tuanya.

Di lain tempat dan waktu, seorang teman pernah berkata, bahwa dirinya bercita-cita membahagiakan kedua orang tuanya nanti, saat dirinya meraih kesuksesan dan rencana-rencana indah sudah disiapkan. Hal itu langsung ditanggapi oleh teman saya yang lain, “memangnya di saat sekarang tidak bisa membahagiakan orang tua?” Ya, kita mungkin juga sama, tahu menghabiskan waktu bersama orang tua itu penting, tetapi masih sebatas rencana. Tunggu sukses, tunggu punya sesuatu, tunggu bisa sesuatu, dan sebagainya.

Padahal menurut Lao-Tzu (Laozi) dalam bukunya Tao Te Ching, mengungkapkan bahwa membahagiakan orang tua bisa sesederhana dengan membuat mereka tidak merasa khawatir akan diri kita. Itu sudah cara membuat orang tua kita bahagia.

Perkataan sahabat saya menjadi pengingat, bahwa selagi ada waktu, marilah isi dengan orang terkasih, terkhususnya kedua orang tua kita. Bahwa, saat ini pun kita bisa memberikan yang terbaik untuk orang tua kita. Adanya waktu mendengarkan cerita mereka, makan bersama, liburan bersama, memberi kabar pada orang tua, menanyakan kabar mereka, sudah menjadi hal sederhana yang membahagiakan mereka.

Selagi ada waktu, selagi ada kesempatan, selagi ada orangnya, selagi ada kamunya…

Kembali ke cerita sahabat saya, kami semua terdiam saat itu. Beberapa saat hening, turut larut dalam kesedihan sahabat kami, hingga keadaan kembali cair ceria seperti sebelumnya. Satu sisi saya belajar untuk selalu berbagi waktu dengan orang tua, di tengah kesibukan dan berbagai ajakan menarik lainnya. Di sisi lain sayapun memahami bahwa kehilangan orang tua bukanlah hal yang mudah, seperti yang dialami sahabat saya yang sangat sayang dan rindu dengan mamanya.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk sahabat saya, seorang anak yang benar-benar ada dan sayang untuk orang tuanya. Terima kasih sudah penjadi pengingat dan inspirasi bagi sahabat-sahabatmu ini.

“Aku hanya mengalami beratnya anak laki-laki ditinggal ibu.” – Sujiwo Tejo

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar