Peninggalan Berharga

Sebelum saya melanjutkan tulisan saya kali ini, sebelumnya saya ingin memberi penyanggahan dahulu, bahwa apa yang ingin disampaikan dalam tulisan ini bukan berarti mereduksi situasi yang berbeda pada setiap pembaca dengan apa yang saya ceritakan. Kembali terapkan APBN, Ambil Positif Buang Negatif.

Bagi yang memiliki saudara entah kakak atau adik, pastinya pernah merasakan kekesalan terhadap saudara kita sendiri. Entah adik kesal karena sikap kakak (baik pria atau wanita), yang dirasa semena-mena, suka mengatur, galak, dominan, dll. Bisa juga kakak kesal kepada adiknya (sama, entah pria atau wanita), yang dirasa kepo, suka ikut-ikutan, gak mau kalah, dan lain-lain. Hal itu memang wajar terjadi di keluarga manapun.

Hal ini yang juga terjadi kepada saya, dengan adik saya. Saya dengan adik saya beda 3 tahun dan dia seorang perempuan. Ada masa di mana saya merasa sangat kesal dan terganggu dengan kehadiran adik saya. Dia suka sekali mau tahu apa yang saya lakukan, serta suka nimbrung kala saat berkumpul dengan teman saya. Dia juga selalu mau ikut ke mana saya pergi dan mau apa yang saya mau juga.

Kami berdua

Pada waktu itu memang saya masih remaja, SMP saat itu. Saya masih merasa adik saya ini sebagai rantai yang mengikat saya. Adanya dirinya membuat saya tidak bebas, saya harus memberi perhatian ke dirinya juga. Ujung-ujungnya kami berdua sering berantem.

Pernah ada mainan saya yang tak sengaja dirusak adik saya, padahal dia punya mainan yang sama. Saya tahu dia tak sengaja, tapi akibat amarah saya yang tak terkendali, saya membalas dengan merusak mainan yang dia punya. Akhirnya adik saya menangis, dua-dua mainan rusak, dan saya kena marah orang tua. Sayapun menyesal juga saat itu, sangat menyesal.

Pernah juga ada rencana mau pergi bersama teman, terpaksa dibatalkan karena harus menjaga adik saya di rumah. Belum lagi permintaan untuk mengalah ke adik, karena sebagai kakak membuat saya jengkel. Belum lagi kalau pergi bersama adik saya, berarti saya ada tugas menjaga dan memberinya jajan untuknya juga.

Seringnya saya berkelahi dengan adik saya, menaruh perhatian bagi mami saya saat itu. Hingga suatu saat, saya hanya berdua dengan mami saya, mami mengajak saya bicara. Pada saat itulah dia memberikan masukan yang mengubah pandangan saya secara total terhadap adik saya.

Pada saat itu, setelah bercerita tentang keluarga, mami saya beralih topik mengenai adik saya. Mami saya hanya berbicara sederhana saja saat itu, tatpi entah mengapa itu mengubahkan saya. Pada waktu itu, mami saya berkata,

“Ko… Saat nanti mami dan papi gak ada lagi, peninggalan berharga dari mami papi nanti bukanlah uang, rumah, harta, dan materi lainnya. Pemberian berharga yang mami papi beri ke kamu ya ade kamu. Saat mami papi udah gak ada, yang kamu punya hanya ada ade kamu, hanya kalian berdua saling menjaga. Kamu jaga dan sayang ade kamu baik-baik ya.”

Sebenarnya itu hal yang seharusnya sudah saya pahami, tetapi entah mengapa kata-kata mami saya menyentuh saya. Saya jadi teringat adik saya. Sejak itu saya melihat adik saya secara berbeda, saya ingin menjadi kakak yang lebih baik.

Seorang kawan juga memberi saran, yang menurut saya baik juga dilakukan oleh teman-teman jika perlu. Dia bilang, kalau lagi kesal atau marah sama salah satu anggota keluarga, coba saat waktu tidur kamu lihat dia. Dia bilang, orang akan menjadi diri sendiri tanpa topengnya saat dia tertidur. Apa yang dialaminya dan isi hatinya bisa terpancar dari wajahnya saat dia tidur. Kamu bisa lebih memahami dan merasakan apa yang dialami dirinya.

Saat itu saya melihat adik saya saat tidur, saya melihat ekspresi wajah yang memang membuat saya merasa, saya perlu berubah terhadap adik saya. Ya, itu memang interpretasi subjektif saya, tetapi apa yang dibilang kawan saya itu benar. Itu bisa meredam perasaan kesal atau amarah kita.

Bukan berarti hubungan saya dengan adik saya jadi damai dan akur selalu. Tetap ada silang pendapat, konflik, dan lain-lainnya, tetapi itu hanya sementara. Saat ini saya merasa adik saya orang yang paling saya percaya dan paling memahami saya. Kami pun banyak merencanakan banyak hal dan mewujudkan bersama, khususnya terkait soal keluarga. Dukungan adik saya juga luar biasa terhadap saya, bahkan saya ada di tahap ini juga karena adik saya.

Adik saya sudah seperti sahabat juga, sahabat jalan-jalan, sahabat cerita, sahabat main. Saya semakin merasakan apa yang dikatakan mami saya, bahwa memang pemberian berharga dari orang tua adalah adik saya. Demikian juga adik saya, pemberian berharga dari orang tua saya adalah saya sebagai kakaknya. Kami berdua saling menjaga.

Saya berharap banyak juga hubungan keluarga khususnya kakak-adik bisa tumbuh bersama dengan rukun dan damai. Tidak sempurna pasti, ada kalanya konflik hadir. Konflikpun juga perlu untuk mendewasakan, namun rasa persaudaraan lebih besar dari masalah yang ada. Jika masih ada yang merasa hubungan dengan kakak atau adik tidak dekat, semoga kalian bisa membuat perubahan. Kuncinya dimulai dari diri sendiri, berusaha sabar, mencoba memahami, dan membuat banyak waktu berkualitas bersama keluarga. Percayalah, hidup kalian akan berubah.

Memang, saya tidak tahu keadaan tiap keluarga, yang bisa jadi memiliki kondisi yang tak dianggap sama, semisal teman-teman yang memang anak tunggal atau keluarga yang orangtuanya sudah berpisah. Saya hanya ingin mengajak, bahwa kehidupan bersama keluarga bisa memberi kebahagiaan yang tak bisa ditemukan dan dibeli di tempat manapun. Siapapun orang yang kalian kasihi, baiknya kita ada buat mereka dan sayangi mereka. Entah itu kakak, adik, orangtua, kakek-nenek, saudara lainnya, mereka adalah pemberian berharga yang kita punya. Perubahan di mulai dari hati kita.

“Bila hendak ada damai di rumah tangga, kita masing-masing mesti menemukan diri kita.” – Lao Tzu

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar