Tanggal 11 September 2016, menjadi hari yang penuh pengalaman berharga di hidup saya. Pada saat itu saya dan juga salah satu teman saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah acara pemuda bernama We UP, dari sinode gereja saya di bawah Komisi Pengembangan Pemuda Sinode GKI – BPMS GKI. Acara tersebut berlangsung di Yogyakarta, tanggal 10 – 12 September 2016. Berhubung acara ini dikhususkan untuk pengurus pemuda klasis di masing-masing daerah, akhirnya saya dan teman salah satu Pengurus Pemuda GKI Klasis Jakarta Barat, diutus pergi ke sana. Ya, sekadar info saya mengemban kepengurusan Komisi Pemuda GKI Klasis Jakarta Barat untuk periode 2016 – 2019.

Dari sebelum acara berlangsung, ada satu sesi acara yang menarik perhatian saya, yaitu adanya field trip. Field trip diadakan pada hari kedua, dan terdapat beberapa lokasi yang bisa dikunjugi dan peserta bisa mengajukan tempat ke mana mereka ingin pergi pada saat field trip. Ada beberapa opsi saat itu, namun saya hanya tertuju ke satu tempat yaitu mengunjungi daerah dekat Gunung Merapi. Daerah itu adalah Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Di sana kami akan mengunjugi seorang rohaniwan, sekaligus relawan, aktivis kemanusiaan, lingkungan hidup, dan kerukunan antar umat beragama. Beliau adalah Alm. R.D. Yoseph Suyatno Hadiatmojo Pr., dikenal dengan nama Romo Yatno atau Romo Tuyet.

Entah mengapa hati saya mengatakan saya harus ke sana. Ketika hari pertama acara dibuka pendaftaran untuk field trip esok harinya, saya mantap menuliskan nama saya di daftar nama field trip ke Dusun Turgo. Pada saat pergi ke sana, perjalanan ternyata memakan waktu cukup panjang dari tempat acara di kota Yogyakarta ke daerah Dusun Turgo. Sebelum mengunjungi ke tempat Romo Yatno, kami sempat beribadah dahulu di sebuah Gereja Katolik di daerah sana. Ibadah di Gereja Katolik memang menjadi agenda acara We Up, untuk bisa beribadah hari Minggu dan merasakan ibadah di Gereja Katolik. Setelah ibadah, kami melanjutkan kembali perjalanan ke tempat Romo Yatno.
Sesampainya di sana, kami diterima oleh Romo Yatno. Sosok Romo Yatno sangatlah sederhana, hanya memakai batik dan celana panjang bahan. Sayapun tak menyangka kalau sosok seperti ini ternyata seorang Romo yang banyak melakukan hal-hal penting di daerahnya tinggal. Kami dipersilakan masuk ke tempat Beliau, lalu mengadakan diskusi dengan Beliau, sambil menyantap kudapan yang telah disediakan. Kami berbincang kepada Romo Yatno yang saat itu mengingatkan untuk melihat orang lain sebagaimananya mereka sebagai manusia. Tak peduli dia siapa, jenis kelamin apa, agama apa, suku apa, etnis apa, dan hal-hal apapun, rasa kemanusiaan kita terhadap sesama tidak boleh terhalang oleh satu hal pun.

Saya mendengar pengalaman Beliau saat membantu dan menggerakan banyak orang untuk bangkit setelah peristiwa meletusnya Gunung Merapi dan terjangan wedhus gembel atau awan panas dari letusan Gunung Merapi. Romo Yatno juga bercerita bagaimana usaha yang dilakukan dirinya bersama rekan-rekan rohaniwan lain dalam Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), dalam menjaga kerukunan agama. Beliau pernah bercerita bagaimana pada saat itu ada umat Katolik yang mendapat desakan dari beberapa oknum, ketika menjalankan kegiatan agama. Keadaan itu berhasil teratasi, justru berkat adanya dukungan dari teman-teman Muslim dari FPUB yang turut menjaga. Antar umat beragama di sana hidup rukun dan sepakat menjaga kerukunan, serta menangkal paham ekstremisme.
Mereka juga menghidupkan alam kembali yang rusak akibat letusan Gunung Merapi, dengan menanam pohon bersama-sama. Benih-benih pun juga disediakan dari salah satu pesantren di sana. Bahkan, kegiatan penghijauan tersebut dijalankan juga dengan upacara adat Merti Bumi*. Kehadiran Romo Yatno sangat terasa bagi penduduk di kisaran Dusun Turgo dan sekitarnya.

Setelah diskusi dengan Romo Yatno, kami diajak mengunjungi 3 tempat yaitu Jembatan Surapanggah, area lereng Merapi, dan kebun bersama yang dikelola Romo Yatno bersama warga. Saya bersemangat mengikuti perjalanan ini, sebab perjalanan menggunakan mobil pikap terbuka, kapan lagi bisa merasakan pengalaman seru seperti ini.

Tempat pertama yang dikunjungi adalah Jembatan Surapanggah, di mana sebelumnya jembatan penghubung Dusun Turgo dan Dusun Tritis terputus akibat letusan Gunung Merapi pada tahun 1994. Melalui Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB), dikoordinir oleh Romo Yatno, dibangun sebuah jembatan baru. Sekian lama dua dusun ini terpisah, akhirnya Jembatan Surapanggah ini diresmikan pada 22 November 2011. Jembatan tersebut memiliki panjang 34 meter, lebar 8 meter, dan tinggi kisaran 5,3 meter. Jembatan ini bahkan diresmikan juga oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. Jembatan ini menjadi simbol kerukunan masyarakat di lereng Merapi, tanpa memandang latar belakang apapun. Sesuai dengan namanya Surapanggah, semoga kehidupan di sana benar-benar sura (wani / berani) dan panggah (kokoh / kuat).

Tempat kedua yang dikunjungi adalah area Lereng Merapi,yang terkena dampak bencana alam letusan Gunung Merapi seperti aliran wedhus gembel dan aliran lahar dingin. Terdapat beberapa sisa-sisa bangunan yang terkena terjangan wedhus gembel dan aliran sungai yang terkena hempasan lahar dingin. Di tempat yang asri, penuh pepohonan, dan kicauan burung tersebut, ternyata merupakan saksi bisu akan kisah-kisah yang terkena dampak besarnya kekuatan Gunung Merapi tersebut. Di sana dilakukan beberapa rehabilitasi lingkungan, dan pemulihan beberapa area yang terkena dampak. Dari tempat tersebut kembali diingatkan Romo Yatno, bahwa kita tetaplah makhluk yang terbatas. Memang ada kalanya kita manusia itu tak berdaya.

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah perkebunan, yang dikelola oleh Romo Yatno dan warga. Di sana terdapat hasil buah-buahan dan digunakan untuk mata pencaharian warga di sana juga. Di sana kami sempat berkeliling melihat beberapa pohon buah. Di sekitar perkebunan lain juga banyak ditemui perkebunan buah salak. Setelah berkeliling kebun, kami makan siang di sana dengan duduk lesehan di atas tikar. Makan siang saat itu terasa sangat membahagiakan, meski lauk sederhana, ternyata suasana kekeluargaan yang membuat makan juga semakin memiliki arti yang dalam. Setelah selesai, Romo Yatno masih berpesan kepada kami untuk terus menjunjung kemanusiaan tanpa pandang apapun, menjaga kerukunan, dan menjaga lingkungan hidup.



Akhirnya kami Kembali ke tempat Romo Yatno, di sana kami langsung berpamitan dan beralih ke kendaraan yang membawa kami sebelumnya ke tempat itu. Kami semua sangat tersentuh saat itu dengan apa yang dilakukan Romo Yatno, hampir di mana pun kami pergi bersama Beliau, banyak orang yang mengenal dan menyapa Romo Yatno. Romo Yatno tidak hanya sekadar dihormati, tetapi juga dicintai oleh banyak orang di sana. Tempatnya yang menjadi basecamp untuk relawan yang digagasnya, juga diisi dari orang yang beragam. Semua bekerja sama, menolong satu sama lain, tanpa pamrih.
Pengalaman di hari itu sangat berkesan bagi saya pribadi, saya yakin teman-teman saya dari We Up juga merasakan hal yang sama. Ada sosok yang memang tidak hanya berbicara dan berpikir saja tentang konsep kebaikan, tetapi dilakukan. Bukan hanya kata-kata dan pemikirannya yang menggerakkan banyak orang, tetapi tindakan nyatanya. Gereja Beliau adalah tempat di luar gereja itu sendiri, pelayanan yang dilakukan Romo Yatno itu ada di setiap warga di lereng Merapi. Semua dilakukan tanpa pamrih, dan berlaku kepada siapa saja. Melihat manusia sebagai manusia, sungguh pengalaman yang sangat berharga.
Namun, kabar mengejutkan hadir pada tanggal 4 Juli 2017, Beliau wafat karena sakit yang dialaminya. Ternyata Romo Yatno memiliki sakit yang ada pada tubuhnya, namun karena semangat yang tinggi menjunjung misi kerukunan dan kemanusiaan, dia terus melaju. Kabar itu tentu mengejutkan kami semua, khususnya teman-teman yang mendapat kesempatan field trip ke Dusun Turgo. Meski Beliau sudah tidak ada, namun karya dan nilai-nilai dari Romo Yatno tetap hidup di hati masyarakat di sana. Peribahasa “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan loreng”, jelas nyata di kisah Romo Yatno.
Hal yang tak mudah adalah meneruskan perjuangan Romo Yatno. Isu kemanusiaan, kerukunan, dan lingkungan hidup masih menjadi isu genting di negara ini. Setidaknya, hal yang bisa dipelajari oleh Romo Yatno adalah berdampak di tempat di mana kamu tinggal. Memang sulit mengubah seluruh Indonesia, tetapi mungkin membuat perubahan di mana kamu berada. Romo Yatno sudah membuktikannya.
Di saat perjuangan untuk kemanusiaan, masih ada yang disambut sinis dengan pertanyaan “Memangnya apa sih memanusiakan manusia? Memangnya manusia itu sendiri apa sih?” Rasanya, saya yakin jika Romo Yatno masih ada, dia akan mampu menjawabnya dengan baik. Tapi, ini bukan lagi giliran Romo Yatno, kali ini adalah giliran kita semua. Nilai-nilai apa yang ingin kalian perjuangkan, teman-teman? Semoga kita bisa menjadi ‘Romo Yatno’ di tempat kita masing-masing.
Terima kasih Romo Yatno.

* Upacara Adat Merti Bumi adalah upacara tahunan yang biasa dilakukan sebelum musim panen, sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.