Pada tahun 2018 ada sebuah kejadian menegangkan melibatkan papi saya dan ini adalah sebuah kisah nyata. Saat itu papi dan mami saya terpaksa berteduh di sebuah warteg, bersama beberapa orang yang sama-sama menghindari hujan. Saat itu masih siang, tetapi langit sedang muram, dengan hujan yang lebat.
Tak lama waktu berselang, ada kejadian yang membuat jantung setiap orang di sana berdetak cepat. Ada seorang bapak, diserang oleh pria lain di tengah derasnya hujan. Orang tersebut membawa senjata tajam dan benar-benar menyerang dengan niatan melukai bapak tersebut. Sontak, orang-orang ramai yang melihat menjadi terpaku diam, seakan mereka tak tahu harus berbuat apa. Kejadian ini begitu dekat dengan tempat papi dan mami saya berteduh.
Beberapa kaum wanita, termasuk mami saya hanya berteriak-teriak minta tolong, namun tak ada yang berani bergerak, untuk menghentikan orang yang sudah dikuasai amarah tersebut. Bapak itu terus melawan, mempertahankan dirinya meski beberapa luka sudah tampak dari tubuhnya. Pelaku masih dengan bengis menyerang bapak itu, sampai tersungkur tak berdaya lagi.
Di saat sepertinya keadaan semakin menjadi pemandangan mengerikan, tiba-tiba papi saya maju menerobos hujan. Papi saya mengambil batu dan terus melempar ke arah pelaku, tak henti papi saya lakukan. Hingga akhirnya ada batu yang lebih besar diambil, dan dihempaskan ke badan pelaku. Upaya terakhir itu ternyata berhasil, tetapi pelaku tersebut menjadi mengalihkan amarahnya kepada papi saya, dan mulai mengejar papi saya.
Mami saya hanya lemas tak berdaya, melihat kenekatan papi saya saat itu. Di saat pelaku mulai mengejar papi saya, barulah beberapa pria yang lain akhirnya turut bergerak menahan pelaku tersebut. Berkat beberapa orang yang akhirnya menahan pelaku, keadaan menjadi terkendali. Besarnya hujan petir saat itu, masih kalah menegangkan dengan apa yang disaksikan beberapa orang di sana, saat itu.
Si bapak yang terluka, mulai mendapat pertolongan, dan papi saya inisiatif membawanya dengan mengendarai motornya ke klinik terdekat. Syukurnya, bapak itu masih selamat, dengan luka yang tidak terlalu parah. Usahanya melawan pelaku, berhasil mempertahankan hidupnya, hingga akhirnya papi saya turut bergerak menghentikan si pelaku.
Pelaku akhirnya diamankan dan dibawa ke pihak berwajib, suasana hujan setidaknya menjadi lebih menenangkan dibanding adegan mencekam sebelumnya. Papi saya kembali menjemput mami saya, lalu mereka pulang. Kejadian ini diceritakan kepada saya dan adik saya. Saya pun tercengang mendengar kisah itu, terlebih saat tahu bahwa papi saya yang juga punya peran penting pada kejadian tersebut.
Pada saat itu terlontar pertanyaan kepada papi saya, “Pap, kok papi berani akhirnya nolong orang itu? Padahal yang lain ada banyak orang, tetapi gak ada yang nolong duluan.”.
Saat itu papi saya menjawab “Papi mah ya takut, tapi papi gak bisa lihat diam aja kayak gitu. Kalau papi cuma diam aja dan gak usaha nolong, papi bisa menyesal seumur hidup papi, kalau akhirnya bapak itu mati di depan mata papi.”
Mendengar jawaban tersebut, membuat kami terdiam. Papi pun juga diam, tetapi terlihat dari matanya yang menyiratkan keseriusan apa yang dijawabnya. Saya jadi paham, bahwa papi saya bergerak bukan karena dia memang berani melawan pelaku tersebut, sebab dia memang takut saat itu. Namun, ada kalanya bukan perkara keberanian yang akhirnya menggerakan orang untuk memulai sesuatu, melainkan bisa berasal dari rasa takut itu sendiri. Seperti papi saya, lebih takut menyesal seumur hidupnya, karena hampir kehilangan sisi kemanusiaannya, jika hanya berdiam diri.
Pada ujungnya, ini bukan lagi soal takut atau berani, tetapi nilai dan prinsip apa yang kita miliki dalam hati kita masing-masing. Bergerak tak harus selalu menunggu berani, tetapi karena memang perlu.
Terima kasih papi, telah memberi pelajaran begitu berharga.

(Yashica Electro 35 – Fomapan Classic 100)