Ketika kuliah S-1 di semester akhir, saat itu saya perlu menjalani magang dan skripsi di satu semester yang sama.
Para mahasiswa perlu mencari tempat magang yang mempersilakan menimba pengalaman praktik sesuai ilmu yang dipelajari, syukur-syukur bisa menjadi objek penelitian skripsi di tempat yang sama.
Kendala kami dulu adalah mencari tempat yang mau menerima anak magang, serta mencari topik untuk skripsi. Syukurnya saya saat itu sudah menemukan topik yang ingin diangkat, hanya belum dipertemukan tempatnya.
Syukurlah menjelang masa akhir pengumpulan nama perusahaan, berkat kebaikan seorang teman gereja, saya bisa magang di tempat dia bekerja. Saya diperbolehkan magang selama 3 bulan, namun tanpa tunjangan. Tak apa lah, diterima untuk magang saja sudah bersyukur sekali.
lega buat saya yang menemukan, tetapi tidak untuk satu teman sekelas saya. Dia masih belum menemukan tempat untuk magang. Saya prihatin juga melihatnya dan mengingat saya juga selamat karena kebaikan teman gereja saya. Akhirnya saya mencoba bertanya kembali ke teman gereja saya, apakah kantornya bisa menerima satu orang lagi.
Kabar baiknya, kantor itu memperbolehkan menerima satu orang lagi, dan saya menawarkan kepada teman saya untuk magang di tempat yang sama. Teman saya pun setuju, dan merasa lega karena mendapat tempat untuk magang.
Ternyata masa indah yang terjadi tidaklah lama. Pada hari hari pertama, kami diperhadapkan fakta bahwa kami tidak boleh mengambil data perusahan untuk skripsi. Ditambah lagi kerjaan magang ada yang tidak sesuai dengan semestinya, kami diminta lembur untuk mengerjakan sales order, yang saat itu harusnya bukan bagian dari pekerjaan magang kami.
Kami berdua sadar ini sudah menjadi jalan buntu bagi kami berdua. Hari pertama magang pun kami dipaksa lembur dan tidak pulang pada jam semestinya.
Masih ingat di petang jam 6 sore saat itu, di depan rumah teman saya. Kami meratapi nasib sama-sama. Pasrah tidak bisa melanjutkan tempat magang di sana dan perlu mencari tempat baru. Namun, pada waktu itu lewatlah seorang wanita yang ternyata dikenal oleh teman saya.
Orang itu menyapa teman saya, lalu bertanya ada apa gerangan. Teman saya langsung mentransfer cerita masalah kami berdua yang gagal mendapat tempat magang. Hingga ada hal yang tak terduga!
Ternyata orang ini adalah HR dari sebuah perusahaan terkenal yang bergerak di bidang e-voucher. Tanpa ragu dia langsung menawarkan untuk magang dan penelitian skripsi kami di tempat dia bekerja, dengan bidang yang disesuaikan dengan ilmu kami berdua.
Bahkan, di tempat ini kami berdua mendapat tawaran lebih baik, mendapat laptop untuk bekerja, uang saku tiap bulan, dan mendapat makan siang setiap harinya. Yang lebih menggembirakan lagi, besok harinya sudah bisa langsung magang! Akhirnya saya dan teman saya berlabuh di sana.
Dari kejadian saat magang dulu, saya berpikir bahwa kebaikan itu tak bisa kita lihat dari awal. Semuanya, bahkan terlihat tampak salah di awal dan hanya baru menemukan segala kebaikan pada saat terus menjalaninya. Jika dipikirkan, seandainya tidak kena lembur 45 menit dari tempat magang pertama, mungkin tidak dipertemukan dengan sang-HR yang baik hati itu.
Jika diundur lagi, seandainya tak terperangkap di tempat magang pertama, maka kami tidak akan kena lembur. Namun, jika ditarik undur lagi, jika tak ada keberadaan teman gereja dan teman sekelas saya, saya tak mungkin juga punya peluang bertemu tempat magang yang sesuai.
Semua rangkaian yang terjadi adalah kebaikan tak terduga! Sampai saat sekarang, saya kadang merasa tidak enak hati dengan teman saya. Niatnya saya yang ingin menolong teman sekelas saya, ternyata kehadirannya yang menyelamatkan saya.
Tapi saya bersyukur juga, saya memutuskan untuk mengajaknya magang bersama. Satu keputusan ternyata bisa membawa diri kita ke suatu titik yang tak bisa diduga sama sekali. Seandainya saya abai terhadap teman sekelas saya, mungkin saya tidak tertolong nasibnya, karena ujungnya buntu di tempat magang, sendirian.
Sejak kejadian itu, saya berusaha untuk terus membuat keputusan baik, berusaha membantu orang lain dan terus menjalani suatu masa yang tidak enak untuk dijalani. Sebab, bisa saja ada Mutiara tersembunyi yang sudah menunggu kedatangan kita.
Teruslah melangkah dan berbuat baik, kawan!