Pernah dalam suatu acara, ada kegiatan di mana tiap peserta bisa menuliskan pendapat pribadinya terhadap kepribadian masing-masing peserta lainnya, selama acara berlangsung 3 hari dua malam.
Saya menuliskan pendapat saya terhadap masing-masing peserta dan memasukkannya ke dalam botol yang sudah bertuliskan nama masing-masing peserta.
Pada saat botol dibuka, saya mendapat banyak pendapat mengenai diri saya dari yang ada kesan baik dan tidak baik. Membaca isi-isi pendapat hal tersebut memang memiliki keseruan tersendiri karena menjadi tahu apa isi pendapat orang lain terhadap diri kita.
Mendengar yang baik adalah hal yang menyenangkan, tetapi bagaimana dengan hal yang tidak sesuai harapan? Saya mendapatkan juga pendapat-pendapat akan dua kutub tersebut.
Membaca isi kertas tersebut membuat saya menyadari, bahwa memang benar apa yang dikatakan dalam filsafat Stoa. Ada sebuah konsep yang disebut Dikotomi Kendali, yaitu ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Memilih mau makan apa, mau membeli apa, pergi ke mana, mau melakukan apa adalah kendali kita. Tetapi, pendapat orang lain termasuk ke dalam hal yang tak bisa kita kendalikan, apa yang terjadi di luar kendali kita jadikan itu sebagai fakta objektif (fakta objektif adalah fakta yang apa adanya, tanpa adanya tambahan tafsiran atau persepti dari subjek).
Tetapi kabar baik! Ada hal yang tetap bisa kita kendalikan, terkait segala pendapat yang kita terima. Meski pendapat orang lain tidak bisa kita kendalikan, tetapi respon kita terhadap setiap pendapat yang diterima, itu yang bisa dikendalikan. Bahkan, kita juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan apa yang kita perbuat, pikirkan, katakan, dan kembali merespon segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita.
Pendapat yang bersifat kritik dan saran kadang memang berat diterima atau bahkan ditolak. Padahal hal tersebut adalah hal yang penting untuk kita terima, dan kita bisa merespon segala pendapat yang kita terima untuk dimaknai menjadi sesuatu yang baik.
Memang belum tentu juga semua yang dikatakan orang lain benar adanya, namun ini pentingnya Dikotomi Kendali, dengan mengendalikan respon kita terhadap hal yang terjadi di luar kendali kita. Jika pendapat itu merupakan fakta objektif, maka kita perlu memaknai hal tersebut agar menjadi hal yang positif, dengan berubah menjadi lebih baik.
Sebaliknya jika hanya sebuah kebohongan, ejekan, hinaan, maka rengkuh hal itu dan melatih kesabaran, atapun memilih tak memikirkannya adalah respon yang masih bisa kita kendalikan.
Dalam Johari Window memang ada hal yang tidak kita ketahui akan diri kita, tetapi orang lain tahu. Hal ini yang bisa menjadi masukan penting untuk diri kita untuk berkembang, walau mungkin masukan tersebut adalah sebuah bitter truth.
Oleh sebab itu, alih-alih langsung menolak, ataupun menentang pendapat tersebut, baiknya kita menyadari bahwa selagi orang lain masih mau jujur memberi pendapatnya akan diri kita, itu adalah tetap sebuah kebaikan.
Karena kembali, pendapat orang lain tidak bisa kita kendalikan, tetapi kita bisa kendalikan respon akan pendapat-pendapat tersebut.
Kembali ke pengalaman saya dengan kertas-kertas dalam botol, saya menyadari masih bersyukur jika ada orang yang masih berani dan mau jujur mengungkapkan siapa diri kita. Saya berharap teman-teman yang membacanya juga demikian.
Percayalah Anda memiliki kendali untuk diri Anda sendiri.