Obrolan Suatu Sore

Pada suatu sore, saat sedang bercengkrama dengan seorang kawan. Ia berkata “Kalau mau memberi, kita harus memberi sampai terasa sakit.”

Saya hanya berusaha memahami maksud perkataan tersebut dalam pikiran dan menyimaknya.

“Kalau memberi dalam kelebihan itu biasa, walau itu tetap baik. Tetapi, memberi dalam kekurangan itu baru luar biasa! Sama seperti pemberian dari si janda miskin.” ujarnya.

Lalu dia melanjutkan cerita, bahwa dirinya pernah menjanjikan hadiah Play Station kepada keponakannya. Hadiah didapatkan jika nilai pelajaran sang keponakan mendapat hasil baik.

Hingga saatnya tiba, sang keponakan menunjukkan hasil belajarnya dan menagih janji. Kawan saya yang kali itu gamang, karena merasa besar juga biaya yang dikeluarkan untuk hadiah yang dijanjikan. Kerjanya penuh usaha, menabungnya tidak seberapa, namun ludesnya besar, serta bukan untuk dirinya.

Sempat terlintas rasa menyesal menjanjikan hadiah tersebut kepada sang keponakan, namun karena terkadung janji, dia tetap memberikannya.

Rasa jengkel akan janjinya sendiri, masih menghantui sampai pada saat memberikan hadiah tersebut kepada keponanakannya.

Tidak ada rasa bahagia, menyesal, jengkel, hanya itu yang mengisi hati dia. Memberi sesuatu pada saat kekurangan, tampak menjadi sebuah kesalahan.

Nyatanya, keadaannya berbeda!

Saat memberikan hadiah tersebut kepada keponakannya, dirinya melihat dan merasakan suatu hal yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Sang keponakan larut dalam haru bahagia mendapatkan hadiah yang didambakannya. Ketika ekspresi bahagia dan bersyukur terpancar dari wajahnya , serta tatapan mata sang keponakan penuh rasa terima kasih kepada om-nya.

Ajaibnya, dirinya yang tadinya kesal, marah, tidak sukacita, beralih 180 derajat! Semuanya lenyap jadi bahagia! Bahagia dalam kualitas berbeda, sukacita yang melebihi apa yang pernah dirasakan. Ada paradoks efek yang terjadi!

Sejak saat itu, kawan saya tidak pernah takut lagi untuk memberi bantuan, walau di saat dirinya mungkin mengalami kekurangan. Dia meyakini di saat berlebih atau kekurangan, manusia tetap mampu memberikan bantuan, meski itu terasa sampai sakit.

Terkadang dalam sakit manusia menemukan kebahagiaan sejati.

Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah hal ini layak untuk dilakukan? Memberi dalam kekurangan, jelas tak masuk akal. Lalu, kebahagiaan macam apa yang didapatkan? Bagaimana hal itu bisa terjadi.

Saya mencoba menelaah dasarnya, apakah hal ini terjadi karena dorongan hubungan interpersonal? Seperti apa yang dikatakan Psikolog Alfred Adler, yang menyatakan dasar persoalan adalah hubungan interpersonal. Serta, ketidakbahagiaan terbesar manusia adalah tidak mampu menyukai dirinya sendiri.

Agar hidup berarti, manusia perlu berguna bagi orang lain. Memberi bantuan adalah cara menggapai hal tersebut. Ungkapan terima kasih, akan menjadi tanda, bahwa manusia telah berkontribusi bagi yang lain. Kontribusi tersebut yang membuat hidup jadi berarti dan berharga, sehingga kita mampu menyukai diri sendiri. Pada tahap ini kebahagiaan diraih.

Tapi, rasanya tetap ada yang kurang. Apa bahan bakar agar hal itu dapat terjadi dengan tulus?

Tetiba teringat ungkapan Ann Blaike – Kerabat Kerja Ibu Teresa, berkata:

“Manis pahitnya cinta adalah pengorbanan, penyangkalan diri, melupakan kepentingan diri sendiri, penderitaan.”

Ahh! Jangan-jangan cinta bahan bakarnya. Cinta yang memampukan. Cinta terhadap sesama manusia yang memberikan kebahagiaan, walau ada rasa sakit.

Obrolan sore itu membekas di pikiran saya. Dengan cinta tertantang memberi sesama sampai terasa sakit, namun ada bahagia sejati dibaliknya. Siapakah yang masih takut merengkuh sakit itu?

“Mencintai tapi tak ingin disakiti, bukankah itu sama dengan menyanyi tapi tak ingin tepuk tangan penonton, Kekasih?” – Sujiwo Tejo.

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar