Di suatu kesempatan saat saya masih berkuliah S-1, saya mengikuti kegiatan himpunan mahasiswa jurusan, dan menjadi panitia acara bazar di kampus. Singkat cerita, salah satu pengisi stannya adalah jasa ramalan kartu tarot. Di sinilah sebuah pengalaman menarik terjadi.

Panitia bazar mendapat jasa gratis untuk melakukan ramalan kartu tarot. Teman mengajak saya untuk memanfaatkan jasa gratis tersebut. Saya menolak, karena alasan tidak percaya hal seperti itu dan tak sesuai ajaran agama. Teman saya memaksa, dengan dalih untuk seru-seruan aja dan kalau memang tak percaya, nothing to lose juga ikutan.
Akhirnya saya ikutan dan mendapat giliran. Saya diminta mengambil tiga kartu, lalu setiap kartu yang dibuka memiliki makna ramalan masing-masing terkait hidup saya. Saya tak menanggapi serius, hingga sampai pada kartu ketiga. Kartu ketiga yang saya dapat adalah kartu tarot ke-9, The Hermit.
The Hermit adalah kartu bergambar sosok pria tua di atas gunung, sambil memegang tongkat dan lentera. Kartu ini digambarkan sebagai sosok yang tidak mencari hal apapun, selain kebenaran sejati dan siap membagikan pengetahuan kepada orang lain.
Namun, makna kartu itu untuk saya berbeda jauh. Saya dinasihati untuk lebih mendekatkan diri lagi kepada Tuhan. Saya tidak terima nasihat tersebut dan membalikkan bahwa saya merasa tidak perlu, karena sudah aktif dan sudah pelayanan di tempat ibadah.
Jawaban dari pembaca kartu tarot mengejutkan saya :
“Serajin-rajinnya kamu ibadah dan pelayanan di tempat ibadah, tidak menjamin kamu sudah dekat dengan Tuhan!”
Jawaban menohok, saya sadar sudah terjebak arogansi rohani.
Saya masih terkesima, karena mendapat teguran untuk spiritualitas saya, dengan cara tak terduga. Ya, melalui kartu tarot.
Setelahnya saya menjadi merenung dan mulai melihat hal-hal yang memang masih perlu saya ubah. Nasihat itu ternyata menjadi pengingat. Bukan berarti mengajak untuk serta merta percaya akan hal demikian. Namun, dari kejadian ini saya jadi belajar, bahwa:
“Saya bisa mendapat pelajaran hidup, melalui cara yang tidak terduga, tak terbayangkan. Kuncinya mau membuka pikiran dan tak menutup hati untuk segala pesan yang mungkin baik untuk kita.”
Saya pun boleh tersenyum dalam hati, ternyata Yang Maha Kuasa punya banyak cara untuk bicara dan menasihati diri ini.
*Tulisan ini juga bisa dibaca pada akun Instagram Terlintas Podcast : @terlintas.podcast