Memaknai Kerajaan Allah (Part 3)

Pada bagian ketiga saat ini, akan melihat Kerajaan Allah sebagai makna Hidup. Sebelumnya sudah diajak melihat Kerajaan Allah sebagai nilai kehidupan, yang tercermin dalam buah Roh, dan berpegang kepada Alkitab sebagai tempat pencarian kebenarannya. Di bacaan ini, akan diulas Kerajaan Allah sebagai Hidup, dan kaitannya dengan nilai kehidupan.

Ilustrasi jalan kebenaran dan hidup

Bapak Eka Darmaputera mengajak untuk melihat hal menarik pada Markus 9: 43 & 47. Pada bacaan tersebut di ayat 43, disebutkan kata “hidup”: “lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung…”, namun di ayat 47 digunakan kata “Kerajaan Allah”: “lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu…”. Hal menarik dari bacaan ini adalah Bapak Eka Darmaputera ingin menunjukkan bagaimana dua kata tersebut bisa dipertukarkan satu dengan yang lain.

Namun, Bapak Eka Darmaputera juga menekankan, bahwa hidup yang dimaksudkan oleh Yesus adalah HIDUP, bukan sekadar hidup (asal eksis). Hidup yang dimaksud bukan hidup yang sementara saat ini, melainkan hidup yang lebih sejati, hidup yang penuh makna, hidup tidak berakhir oleh kematian, hidup yang berkualitas. Hidup yang dimaksud oleh Yesus ini juga bukan hidup yang ada dalam diri manusia saja, melainkan hidup yang diberikan kepada kita, yang berasal dari “luar”, dari Allah sendiri.

Lebih lanjutnya dijelaskan, Alkitab mengatakan HIDUP itu bukan ‘apa’, melainkan ‘siapa’. Untuk mengetahui siapa yang dimaksud, kembali lagi kita harus berpegang dengan kebenaran dalam Alkitab. Dalam Yohanes 14:16, dituliskan “Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup”. Hal ini sangat jelas kita baca, bahwa Hidup yang dimaksud, dan Kebenaran yang ada semua berada dalam satu jalan di dalam diri Yesus Kristus sendiri. Yesus yang sudah memberikan “kehidupan”, dengan diri-Nya sendiri di kayu salib.

Jika ingin menemukan Kerajaan Allah melalui Hidup yang dimaskudkan, jalannya hanya satu yaitu menerima Yesus dalam diri kita. Yesus yang sudah lebih dulu sebagai manusia mampu mempraktikkan nilai-nilai Kerajaan Allah, menunjukkan bahwa kita sebagai manusia juga mampu menerapkan nilai Kerajaan Allah. Yesus juga ingin kita juga melakukan hal yang sama, serta mengizinkan Dia berada dalam hidup kita.

Saya pun melihat ini menjadi perpaduan nyata, dalam rangka mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Sebab memang mustahil kita bisa menerapkan nilai Kerajaan Allah seperti buah-buah Roh, tanpa adanya Yesus Kristus dalam diri kita. Demikian juga sebaliknya juga tidak mungkin mengaku sebagai pengikut Kristus, namun nilai-nilai Kerajaan Allah tak tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti pada Galatia 2:20, dikatakan “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”. Melalui bacaan Galatia 2:20, saya menemukan semakin benar apa yang dikatakan Bapak Eka Darmaputera. Ketika menerima Yesus, aku hidup bukannya aku lagi, tetapi Kristus dalam ku, yang memberikan HIDUP (Kerajaan Allah) oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi dan memberikan nyawaNya.

Berdasarkan dua pengertian dari Kerajaan Allah dan kebenarannya, ternyata tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukannya. Dalam mencari itu semua mulailah dari dalam diri kita sendiri. Bertanyalah kepada diri kita masing-masing, apakah nilai-nilai Kerajaan Allah dan Yesus sendiri ada dalam hidup kita? Sudah kita mencari kebenaran melalui Alkitab dan dari Yesus sendiri sebagai pedomannya? Percayalah jika hidup kita menerima Kristus, dan menjalankan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup kita, kita sudah mewujudkan kedekatan Kerajaan Allah di dunia melalui diri kita. Sebab ketika hidupku bukanlah aku lagi, tetapi Yesus dalam ku, maka orang lain akan melihat Kristus dan Kerajaan Allah dalam hidup kita.

Mungkin ini yang dimaksudkan Ibu Teresa, di mana beliau sudah melakukannya lebih dahulu dalam kehidupannya, menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kali ini, saatnya giliran kita yang menemukannya.

Bibliografi
Darmaputera, Eka D, 2016. 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Disclaimer: Renungan ini hanya sebagai salah satu perspektif, dari hasil penghayatan pribadi Penulis akan pengalaman, bacaan, serta diskusi yang pernah dilakukan. Tulisan ini juga bukan sesuatu yang bersifat mutlak, melainkan sebagai sebuah kacamata yang mungkin cocok dipakai bagi yang membutuhkan.

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar