Pada renungan bagian pertama, melalui kisah Ibu Teresa, diingatkan kembali bahwa perlu bagi umat Kristen mencari Kerajaan Allah, dan kebenarannya. Memahami Kerajaan Allah dan kebenarannya yang menjadi bahasan kita selanjutnya. Pada bagian kedua ini akan melihat Kerajaan Allah sebagai nilai kehidupan.
Pada bentuk Kerajaan Allah sebagai nilai kehidupan, bisa dimulai dari perjalanan Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus dalam karya pemberitaan-Nya, memiliki satu penekanan yaitu Kerajaan Allah. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Matius 4 : 17). Lalu Tuhan Yesus juga mengajarkan kita berdoa: “Datanglah kerajaan-Mu” (Lukas 11 : 2). Kita akan banyak menemui Tuhan Yesus menyebutkan tentang Kerajaan Allah, dalam ucapannya. Pada bagian ini, Bapak Eka Darmaputera menangkap bahwa yang dimaksudkan Kerajaan Allah tersebut adalah nilai-nilai-Nya, yang tercermin dalam kebenaran, keadilan, kasih, perdamaian, dan lain-lainnya.

Jadi saat Yesus mengajak untuk bertobat, karena Kerajaan Sorga sudah dekat, maka yang dimaksud-Nya adalah perubahan sikap hidup kita dan mau menerima kehendak Tuhan. Perubahan hidup kita harus 100%, 180 derajat, sehingga kita menjadi wadah untuk nilai-nilai Kerajaan Allah. Ujungnya Kerajaan Allah yang memiliki nilai-nilai-Nya itu bisa menyatu dengan diri kita yang memiliki nilai yang sama. Oleh sebab itu dalam Doa Bapa Kami, kita diajarkan berdoa “Datanglah Kerajaan-Mu”, yang artinya Ia mau nilai-nilai Kerajaan Allah itu datang dan menguasai hidup kita.
Dari mana saya meyakini bahwa apa yang dikatakan beliau itu benar adanya? Saya mengajak kita melihat Markus 1 : 15, yang berbunyi “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” menurut saya ini menjadi kunci yang menguatkan bahwa memang benar adanya yang dikatakan Bapak Eka Darmaputera. Jika di Matius disebutkan Kerajaan Sorga, maka di Markus disebutkan Kerajaan Allah, dan Tuhan Yesus memang meminta kita bertobat. Nilai-nilai Kerajaan Allah harus ditumbuhkan dalam kehidupan manusia.
Lalu dari mana kita mengetahui nilai-nilai Kerajaan Allah tersebut? Kuncinya kembali kepada Markus 1 : 15, dengan penekanan bagian akhir “Percayalah kepada Injil!”. Setelah kita bertobat, dan siap diisi nilai-nilai Kerajaan Allah, kunci selanjutnya percaya Injil, percaya Firman Tuhan, percaya Alkitab. Karena dari dalam situlah terdapat nilai-nilai Kerajaan Allah yang dimaksudkan. Dengan membaca Alkitab, kita menjadi mengerti dan jawabannya memang ada di sana. Ingat! Tuhan Yesus berpesan untuk tak hanya mencari Kerajaan Allah saja, tetapi juga kebenarannya! Di mana memastikan kebenarannya? Jawabannya ada di Alkitab.
Karena kebenarannya ada di Alkitab, ada ayat yang bisa menjadi penunjuk jalan mengenai nilai Kerajaan Allah tersebut. Di dalam Roma 14 :17, dikatakan “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Dari ayat tersebut menunjukkan, bahwa apa yang dikatakan Bapak Eka Darmaputera kembali benar adanya. Kerajaan Allah adalah nilai yang tercermin dalam kebenaran, damai sejahtera dan sukacita. Menariknya menurut saya, kita bisa semakin mempertegas nilai-nilai Kerajaan Allah tersebut, melalui sebuah kata kunci, yaitu Roh Kudus.
Roh Kudus menjadi indikator penting terciptanya nilai-nilai Kerajaan Allah dalam hidup kita. Saat kita percaya kepada Tuhan yesus, yakinlah Roh Kudus juga bersemayam di hati kita semua. Jika hidup kita ada dalam Roh, maka hidup kita tidak mengikuti keinginan daging, sebab kedua hal itu saling bertentangan. Jika kita hidup dalam roh, maka buah kehidupan yang dihasilkan adalah buah-buah Roh itu sendiri yang berisikan sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Galatia 5 : 16-26 menjadi penegasan relevansi nilai Kerajaan Allah yang dimaksudkan. Jika mengingat kembali Ibu Teresa, kita jadi mengerti mengapa Ibu Teresa menekankan soal mencari Kerajaan Allah. Rasanya semua buah-buah roh dan kesetiaan merenungkan Firman Tuhan sudah melekat dalam hidup Ibu Teresa.
Pernah Komisi Pemuda di gereja saya membuat film pendek berjudul The Proper Manure. Film pendek ini bercerita mengenai seorang pemuda yang ingin melakukan buah-buah Roh, namun menemui banyak kendala. Film ini bisa menjadi gambaran bagi kita tentang bagaimana pencarian Kerajaan Allah dalam hidup. Mungkin, kita juga orang yang sama dengan kisah pemuda di film pendek ini. Mencari Kerajaan Allah memang bukan hal mudah, tetapi bisa dilakukan. Berikut film pendek The Proper Manure, bagi yang ingin menyaksikan:
Jadi dari perenungan mengenai bentuk Kerajaan Allah sebagai nilai kehidupan, dapat dikatakan bahwa umat Kristen perlu memastikan bahwa hidup mereka memancarkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Hidup di dalam Roh, bukan daging. Bentuk nilai-nilai Kerajaan Allahnya pun disebutkan di dalam Alkitab, dan itulah kebenarannya. Jadi hal yang perlu dipastikan adalah apakah kita sudah hidup dalam Roh Kudus, dan terus membaca, serta merenungkan Alkitab di kehidupan sehari-hari?
Dalam bentuk pertama dari Kerajaan Allah, dapat dilihat bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah adalah buah-buah Roh yang perlu tampak dihidup kita. Kuncinya sebagai umat Kristen agar hal itu terjadi adalah hidup dalam Roh dan percaya kepada Alkitab. Tuhan Yesus ingin hidup kita bertobat dan berubah menjadi Kerajaan Allah, agar kita bisa memperoleh keselamatan.
Seperti yang dikatakan dalam Roma 8 : 6, yang mengatakan karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah Hidup dan damai sejatera. Menariknya pada ayat ini disebutkan, bahwa keinginan Roh adalah Hidup. Hidup inilah yang menjadi makna kedua dari Kerajaan Allah, seperti yang disebutkan di renungan bagian pertama.
Pada renungan bagian ketiga nanti, saya akan mengajak memaknai Kerajaan Allah sebagai Hidup. Dari pengertian Kerajaan Allah sebagai Hidup, nantinya akan ditemukan serangkaian benang merah Kerajaan Allah sebagai nilai Kehidupan dan Hidup itu sendiri. Rangkaian tersebut yang diharapkan menjadi landasan hidup kita sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus.
Bibliografi
Darmaputera, Eka D, 2016. 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia
Disclaimer: Renungan ini hanya sebagai salah satu perspektif, dari hasil penghayatan pribadi Penulis akan pengalaman, bacaan, serta diskusi yang pernah dilakukan. Tulisan ini juga bukan sesuatu yang bersifat mutlak, melainkan sebagai sebuah kacamata yang mungkin cocok dipakai bagi yang membutuhkan.