Saya memiliki buku berjudul Di Dalam Keheningan Hati, Renungan Ibu Teresa dari Kalkuta, karya Kathryn Sphink. Dalam salah satu bab-nya ada bacaan menarik mengenai kisah Ibu Teresa, yang menekankan pentingnya kita berserah dan bergantung kepada Allah, dengan bacaan dari Markus 11 : 24.

Dikisahkan suatu hari di tempat Ibu Teresa, terdapat 7000 orang yang perlu diberi makan, sedangkan persediaan makanan sudah tidak ada. Ibu Teresa berserta rekannya tetap percaya pada pimpinan Tuhan, dan kejaiban terjadi, di mana ada sekolah yang libur saat itu, tetapi memiliki persediaan roti yang banyak, lalu diberikan ke tempat Ibu Teresa. Roti itu bahkan cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan selama dua hari. Keajaiban terjadi, namun uniknya bagi saya adalah bagian penutup dari renungan Ibu Teresa tersebut. “Saya ingin Anda percaya sepenuhnya bahwa Allah tidak akan mengecewakan kita. Percayalah akan kata-kata-Nya dan carilah dulu Kerajaan Allah dan segala lainnya akan ditambahkan.”
Alih-alih fokus akan keajaiban Allah dalam pekerjaan-Nya, Ibu Teresa mengingatkan kembali hal mendasar, sebelum segala sesuatu ditambahkan dalam hidup kita. Hal itu adalah mencari Kerajaan Allah, yang bisa kita baca juga ayatnya pada Matius 6 : 33, dan Lukas 12 : 31. Mari ditelaah dari apa yang sudah Ibu Teresa lakukan semasa hidupnya, apa yang menjadi bentuk manifestasi Kerajaan Allah dan kebenarannya di dalam kehidupan Ibu Teresa. Memang hal ini yang menjadi penekanan penting dalam hidup orang Kristen, alih-alih hanya berharap keajaiban dan kebaikan Tuhan.
Saya melihat ada dua kecenderungan kendala yang bisa dilihat terkait carilah Kerajaan Allah. Pertama orang tersebut tidak menyadari sama sekali pentingnya panggilan mencari Kerajaan Allah ini, melainkan hanya berharap kebaikan terjadi pada dirinya, karena semata menjadi Kristen. Penting oleh karenanya untuk diingat, bahwa percaya dan menerima Kristus tidaklah sama, dengan sekadar menganut agama Kristen.
Kecenderungan kedua adalah lupanya bahwa umat Kristen masih perlu mencari kebenaran juga, selain Kerajaan Allah itu sendiri. Mengenai hal ini penekanannya adalah Kerajaan Allah bisa jadi konsep yang masih perlu ditelaah baik-baik apa yang sebenarnya dimaksudkan. Mungkin ada yang memaknai Kerajaan Allah, benar-benar sebagai kerajaan yang datang dengan pasukannya. Kerajaan Allah itu perlu dipastikan kebenarannya yang bersumber dari Allah itu sendiri, dan ini yang juga rawan terlewat. Kadang sesuatu yang baik pun tidaklah cukup, atau benar-benar baik. Ada kebenaran dari Kerajaan Allah juga yang perlu dicari oleh kita, agar praktiknya benar-benar sesuai dengan kehendak Tuhan.
Mencari Kerajaan Allah dahulu, beserta kebenarannya, barulah kita bisa lepas dari segala kekhawatiran dan ada hal yang akan Allah tambahkan (tentunya hal itu sesuai dengan kebaikan dan kebutuhan kita). Namun, mungkin dari kita masih mencari makna pada Kerajaan Allah itu sendiri. Kita berusaha atau bahkan belum menemukan makna Kerajaan Allah yang dimaksud. Apa yang dimaksud Kerajaan Allah dan kebenaranya? Di mana Kerajaan Allah dan kebenarannya itu berada? Pertanyaan-pertanyaan itu yang menjadi refleksi penting dalam kehidupan kita sebagai Kristiani.
Untuk memulainya (astaga, jadi ini baru mulai?!), perenungan ini dibagi menjadi 3 bagian terpisah, sehingga dapat dipahami secara runut dan mudah diikuti. Dalam tema ini, saya akan melandasinya melalui perenungan dari Almarhum Bapak Eka Darmaputera, lalu saya kembangkan kembali melalui perenungan saya. Saya mengajak para pembaca untuk menerima perenungan ini sebagai sebuah perspektif dalam rangka memahami Kerajaan Allah dan kebenarannya. Jadi bukan berarti ini sesuatu hal yang mutlak, namun sebagai hasil pemaknaan pribadi dalam rangka mencari Kerajaan Allah, dan kebenarannya itu sendiri. Dalam renungan Bapak Eka Darmaputera, pernah dibahas oleh beliau mengenai Kerajaan Allah. Terdapat dua bentuk Kerajaan Allah yang dicerminkan pada renungan tersebut, yang pertama adalah sebagai nilai kehidupan, dan yang kedua sebagai Hidup. Saya akan memulainya pada Kerajaan Allah sebagai nilai kehidupan di bagian kedua.
Pada intinya di renungan bagian pertama ini kita menyadari, bahwa untuk menjadi seorang pengikut Kristus, tidak cukup hanya sekadar menjadi pemeluk agama Kristen. Kita perlu mengikuti cara hidup dan kehendak Tuhan Yesus Kristus sendiri, yaitu dengan mencari Kerajaan Allah, dan kebenarannya. Oleh sebabnya kita baru bisa mendapatkan hal-hal yang akan ditambahkan kepada kita dari Tuhan, seperti yang dibuktikan oleh Ibu Teresa.
Bibliografi
Darmaputera, Eka D, 2016. 365 Anak Tangga Menuju Hidup Berkemenangan. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Sphink, kathryn, 2006. Di Dalam Keheningan Hati, Jakarta: Marian Centre Indonesia.
Disclaimer: Renungan ini hanya sebagai salah satu perspektif, dari hasil penghayatan pribadi Penulis akan pengalaman, bacaan, serta diskusi yang pernah dilakukan. Tulisan ini juga bukan sesuatu yang bersifat mutlak, melainkan sebagai sebuah kacamata yang mungkin cocok dipakai bagi yang membutuhkan.