
Seorang anak kecil berpakaian kemeja putih dan celana pendek merah, tiba-tiba berteriak di tengah keramaian orang.
“Demokrasi itu apa?”
Tertarik oleh pertanyaan anak kecil, semua orang dari latar belakang yang berbeda berlomba-lomba menjawab pertanyaan anak kecil tersebut.
“Demokrasi itu Demos dan Kratos”
“Demokrasi itu kebebasan berbicara dan berpendapat”
“Demokrasi itu memberi keadilan ke semua orang”
“Demokrasi itu menyatukan perbedaan”
“Demokrasi itu memberi pengharapan”
“Demokrasi itu menentukan jalan mu sendiri”
“Demokrasi itu Indah”
“Demokrasi itu …”
Semua orang masih berlomba menyebutkan demokrasi itu apa, namun sang anak kecil tampak mulai lelah dan bingung, karena sibuk mencatat demokrasi yang berbagai versi.
Hingga pada akhirnya sang anak kecil itu kembali berteriak di tengah keramaian orang.
“Demokrasi ‘itu’ ada di mana?”
Dalam sekejap suara bising akan demokrasi menjadi lenyap, semua orang hanya saling menatap dan diam.
Tak ada satu pun yang menjawab dan perlahan-lahan hilang meninggalkan si anak kecil tersebut.
Saat itulah si anak kecil mulai sadar akan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Ketika dalam hatinya kembali bertanya “Demokrasi itu apa?”, tangan sang anak kecil menulis jawaban di bukunya bahwa…
“Demokrasi itu entah di mana”
Jakarta, 21 January 2011
RV