Keberadaan

Pada suatu hari Sabtu, saya menghabiskan waktu di sebuah coffeeshop, untuk menuntaskan pekerjaan saya. Jarak coffeeshop tersebut tidak terlalu jauh, kurang lebih 4.1Km, hanya butuh waktu sekitar 10 menit saja menggunakan kendaraan roda dua. Larut dalam pekerjaan, dan menikmati minuman favorit Earl Grey Macchiato, tak terasa 6 jam berlalu.

Saya memutuskan pulang. Ternyata, di sinilah petaka dimulai! Motor saya mogok, tidak bisa dijalankan. Membuat saya harus mendorongnya sampai ke bengkel terdekat atau sampai ke rumah. Perjalanan yang hanya sekitar 10 menit, berubah menjadi perjalanan panjang, terasa 10x lebih jauh.

Belum 500 meter, saya sudah menghadapi tantangan yang membuat betis terasa mau meledak. Tantangan itu ialah mendorong maxi scooter melewati jembatan. Percayalah ini sangat menyiksa. Saat berhasil berada di atas jembatan, badan merasa tak sanggup lagi mendorong. Tiba-tiba, hadirlah seorang bapak muda mengendarai motor, bersama istri dan anaknya yang masih kecil.

Dari sekian banyak orang melintas, hanya Bapak ini yang akhirnya menjadi oasis di perjalanan saya. Bapak tersebut menawarkan untuk ‘stut’ motor sampai tujuan. Saya menyebutkan alamat rumah, yang ternyata tak sejalan dengan tujuan si Bapak. Namun, si bapak tidak masalah membantu, saya pun tak menolak. Akhirnya saya dibantu hingga sampai ke rumah. Saya berterima kasih untuk kebaikan keluarga itu.

Saya berpikir, kok masih ada orang sebaik itu? Melihat atribut sang istri, saya tahu keluarga ini memiliki keyakinan yang berbeda dari saya, beda etnis pula, perjalanan tak searah, tidak saling kenal. Namun, kebaikan Bapak ini terasa bagi orang asing seperti saya. Saya pun menyesal tak sempat berkenalan diri, tetapi kebaikannya melekat di hati.

Saya terus kepikiran, hingga saat membaca buku Love for Imperfect Things – Haemin Sumin, dia menulis pesan kepada sahabatnya.

“… And so far goodness’ sake please remember: even if you never achieve anything big and significant, to me, your existence alone is already enough”.

Saya jadi tertarik dengan kata “Ada”, dan teringat isi buku “Berani Tidak Disukai”, karya Ichiro Kishimi & Fumitake Koga. Dituliskan bahwa kita perlu melihat orang lain bukan pada level “tindakannya”, tapi pada “keberadaannya”. Tanpa menilai apakah orang lain sudah melakukan sesuatu atau tidak, seseorang bersyukur karena mereka ada, karena keberadaan itu sendiri. Saya jadi bersyukur akan keberadaan Bapak yang menolong saya. Saya paham tindakan si Bapak yang jadi pembeda, tetapi…

Saya juga menyadari, tindakan baik tidak akan ada, jika tidak ada keberadaan seseorang yang melakukannya. Bapak ini adalah keberadaan yang saya syukuri, dan saya bersyukur dia ada di dunia. manusia memang tidak minta dilahirkan, tetapi nyatanya keberadaan bapak itu bisa berarti bagi saya. Keberadaan saya atau Anda, bisa berarti bagi orang lain.

Saya belajar bahwa hidup kita adalah keberadaan yang berharga, dan harus kita syukuri. Bersyukur ada Keberadaan orang di sekitar Anda, dan percayalah ada orang lain yang bersyukur akan keberadaan Anda pula. Saat menyadari berharganya keberadaan kita, mari isi keberadaan kita dengan tindakan penuh kebaikan.

Diterbitkan oleh rendikertas

Seorang yang ingin menumpahkan isi pikiran dan pengalaman dalam tulisan.

Tinggalkan komentar